TAKALAR, UPDATESULSEL.ID – Abu Asra Dg Lawang, atau yang familiar dengan panggilan Ustadz Lawang disebut akan menjadi khatib pada pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah yang rencananya dipusatkan pada Lapangan H. Makkatang Dg. Sibali.
Meski tanggal dan hari masih menunggu hasil sidan isbat pemerintah pusat, Kepastian Ustadz Lawang berceramah dalam Idul Fitri tahun ini telah disahkan sekretaris Daerah Kabupaten Takalar, Dr. Muhammad Hasbi, dengan menerbitkan surat resmi terkait permohonan kesediaan khotib dan imam Shalat Idul Fitri 1447 H.
Selain ustadz Lawang, bertindak sebagai Imam, Muhammad Nur Yudha Yusran yang notabene keponakan dari Bupati Takalar, Firdaus Daeng Manye’. Keterpilihan Keduanya dinilai karena memiliki hubungan emosional tersendiri.
Sebelum Firadus Daeng Manye’ terpilih jadi Bupati Takalar, Ustadz Lawang dikenal sering ikut dalam momentum kampanye. Bahkan sempat viral video ustadz Lawang yang mengingatkan Daeng Manye’ jika terpilih nanti untuk tidak asal mutasi.
“Hakkul yakin menangki ini, insya Allah. Bajiki bateta angngatoro posisi ri Takalar. Teaki angkanna tau Mangarabombang kipamae rigalesong, tau galesong kipasambila mange ri Mangarabombang,” ucap ustadz Lawang dalam bahasa Makassar
Lebih lanjut, Ustadz kocak dan sering mengisi takziah dan panggung-panggung dakwah dengan gaya melucunya itu meminta agar rujab Bupati kedepan terbuka untuk umum.
“Siapa kita! ( Daeng Manye, HHY sembut peserta yang hadir) punna ammuko ammembara lebbamaki nilanti’ Insya Allah, tealaloki tongkoki rumah jabatanya pak Bupati, sungkei rumah jabatanya bapak wakil bupati, ka antu kodong masyarakatta Sanna todong jallana anngonjo rumah jabatan” Lanjut Ustadz Lawang.
Keputusan pemerintah kabupaten Takalar memilih Ustadz Lawang menjadi khotib lebaran Idul Fitri 1447 H adalah hak prerogatif dan Bupati. Namun, dibalik itu semua masyarakat berharap Daeng Manye’ bisa lebih mengedepankan profesionalisme dari kepentingan golongan atau kelompok.
“Kami berharap pak Bupati Takalar lebih profesional lagi dalam setiap mengambil kebijakan jangan sampai timbul anggapan hanya yang terpilih yang punya kedekatan dan hubungan emosional ” Kata salah satu warga Pattallassang
Kemungkinan Penentuan 1 Syawal 1447 H (2026 M) di Indonesia berpotensi berbeda, Muhammadiyah telah menetapkan Jumat, 20 Maret 2026. Sementara itu, Pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU) diprediksi menunggu sidang isbat pada 19 Maret.(*)







