Opini  

Anies Telah Beranjak, Resonansi Gagasannya Masih Menetap di Warkop Makassar

MAKASSAR, UPDATESULSEL.ID — Kunjungan Anies Rasyid Baswedan ke Kota Makassar pada Sabtu (19/9/2026) telah berakhir. Namun, percakapan mengenai gagasan, gerakan sosial, dan politik yang mengiringi kehadirannya masih menemukan ruang hidup di tengah masyarakat.

Salah satu ruang yang menarik untuk membaca fenomena tersebut adalah warung kopi atau warkop. Di Makassar, warkop tidak sekadar berfungsi sebagai ruang konsumsi kopi dan interaksi sosial, tetapi juga kerap menjadi ruang informal bagi masyarakat untuk mendiskusikan isu publik.

Pasca-kunjungan Anies, percakapan mengenai dirinya kembali muncul dalam berbagai ruang pergaulan masyarakat, termasuk kalangan anak muda.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan generasi muda dalam politik tidak selalu berlangsung melalui forum formal, seminar, maupun agenda kepartaian. Diskursus politik juga dapat tumbuh secara organik melalui ruang-ruang sosial yang cair.

Dalam perspektif komunikasi politik, pola semacam ini menarik karena batas antara komunikasi politik formal dan komunikasi sosial semakin tipis. Gagasan politik dapat berkembang melalui percakapan sehari-hari, media sosial, hingga interaksi antarkelompok masyarakat.

Anies dan Ruang Dialog Dengan Gerakan Rakyat

Dalam kunjungannya ke Makassar, Anies bertemu dengan jajaran pengurus, kader, relawan, dan simpatisan Gerakan Rakyat Sulawesi Selatan. Ia juga meresmikan penggunaan kantor Sekretariat DPD Partai Gerakan Rakyat Kota Makassar di kawasan Paropo, Kecamatan Panakkukang.

Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Dalam kesempatan itu, Anies mendorong Gerakan Rakyat agar memperluas jangkauan gerakan dan tidak berhenti pada aktivitas politik.

Ia menekankan pentingnya keterlibatan organisasi dalam merespons berbagai persoalan sosial masyarakat serta menjaga kerukunan dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Pesan tersebut kemudian menjadi bagian dari percakapan publik mengenai bagaimana organisasi masyarakat dan gerakan sipil dapat mempertahankan relevansinya di luar momentum elektoral.

Bagi sebagian kalangan muda yang terlibat dalam gerakan sosial, pendekatan tersebut dipandang sebagai bentuk komunikasi politik yang lebih dialogis. Politik tidak semata dipahami sebagai aktivitas memenangkan kontestasi, tetapi juga sebagai proses membangun relasi sosial dan memperbincangkan persoalan publik.

Fenomena Menarik

Salah satu fenomena yang menarik perhatian publik dalam kunjungan Anies di Makassar adalah cerita mengenai usaha laundry yang menggunakan nama Anies dalam materi promosi.

Fenomena semacam ini memperlihatkan bagaimana komunikasi publik hari ini dapat berlangsung melalui medium yang sangat sederhana. Humor, kreativitas warga, dan media sosial dapat menjadi jembatan komunikasi antara figur publik dengan masyarakat.

Bagi generasi muda, pola komunikasi yang cair memiliki daya tarik tersendiri karena tidak selalu menghadirkan jarak protokoler antara tokoh publik dan warga.

Namun, secara akademik, fenomena tersebut juga dapat dibaca secara lebih luas. Popularitas sebuah konten tidak secara otomatis menunjukkan penerimaan politik. Viralitas di media sosial perlu dibedakan dari dukungan politik substantif.

Dengan demikian, respons masyarakat terhadap fenomena tersebut tetap perlu ditempatkan dalam konteks diskursus publik yang kritis.

Warkop Sebagai Laboratorium Demokrasi

Makassar memiliki kultur diskusi publik yang kuat. Warkop menjadi salah satu ruang informal tempat berbagai kelompok masyarakat bertemu dan bertukar pandangan.

Di ruang seperti itu, suatu gagasan dapat diuji melalui perdebatan spontan. Ada yang menerima, ada yang mempertanyakan, bahkan tidak sedikit yang menolak.Justru keberagaman pandangan tersebut merupakan bagian penting dari demokrasi deliberatif.

Dalam konteks ini, warkop dapat dipahami sebagai ruang publik informal yang memungkinkan masyarakat membangun opini melalui interaksi langsung. Pendapat tidak lahir dari satu sumber tunggal, tetapi melalui proses pertukaran argumentasi.

Kehadiran Anies di Makassar kemudian menjadi salah satu stimulus bagi munculnya kembali percakapan politik tersebut.

Ketua DPW Muda Bergerak Sulawesi Selatan, Muh. Alief, menilai fenomena tersebut menunjukkan bahwa anak muda tidak sepenuhnya apatis terhadap politik.

Menurutnya, persoalannya bukan pada ada atau tidaknya ketertarikan generasi muda terhadap politik, melainkan bagaimana politik dikomunikasikan dan dihadirkan dalam ruang yang dekat dengan kehidupan mereka.

“Anak muda bukan tidak peduli politik. Mereka hanya membutuhkan ruang politik yang lebih organik, terbuka, dan tidak kaku,” demikian pandangan Alief dalam membaca fenomena tersebut.

Resonansi Gagasan Setelah Kunjungan

Kunjungan Anies ke Makassar pada akhirnya tidak berhenti pada agenda pertemuan dengan jaringan Gerakan Rakyat. Percakapan mengenai dirinya terus berkembang di ruang publik.

Bagi Gerakan Rakyat Sulawesi Selatan, kunjungan tersebut juga menjadi bagian dari proses konsolidasi organisasi. Situs resmi Gerakan Rakyat Sulsel menyebut organisasi tersebut tengah memperkuat struktur hingga tingkat kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.

Namun, di luar struktur organisasi, terdapat fenomena lain yang tidak kalah penting: bagaimana sebuah kunjungan tokoh publik mampu menjadi bahan diskursus masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.Di Makassar, salah satu indikatornya dapat ditemukan di warkop.

Ketika sebuah isu politik mampu berpindah dari ruang organisasi ke ruang percakapan masyarakat, kemudian diperdebatkan secara terbuka oleh kelompok dengan latar belakang berbeda, di situlah politik menemukan dimensi sosialnya.

Anies mungkin telah meninggalkan Makassar. Tetapi percakapan tentang gagasan, komunikasi politik, gerakan masyarakat, dan masa depan politik masih terus berlangsung.

Dan untuk sementara, warkop Makassar tetap menjadi salah satu laboratorium informal tempat semua gagasan tersebut diuji dengan argumentasi, kritik, dan tentu saja secangkir kopi.

Penulis : Muh Alief (Ketua DPW Muda Bergerak Sulsel)