TAKALAR, UPDATESULSEL.ID – Meski momen bulan suci Ramadan telah berlalu dan Idulfitri 1447 Hijriah sudah dirayakan, polemik kegiatan buka puasa bersama (bukber) di Rumah Jabatan (Rujab) Wakil Bupati (Wabup) Takalar kembali mencuat ke permukaan.
Isu ini menjadi perbincangan hangat setelah terungkap dugaan adanya instruksi dalam grup WhatsApp yang melarang para kepala sekolah tingkat SD/SMP untuk menghadiri acara Bukber di Rujab Wabup Takalar.
Peristiwa yang terjadi menjelang pertengahan ramadhan itu kembali disorot publik. Saat itu, Wakil Bupati Takalar Hengky Yasin menggelar acara Bukber di Rujabnya pada Senin (9/3/2026). Namun, dibalik kemeriahan acara terselip cerita yang memicu tanda tanya.
Sehari sebelum kegiatan berlangsung, beredar pesan dalam grup WhatsApp yang ditujukan kepada para kepala sekolah. Pesan tersebut diduga berasal dari Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) dan berisi imbauan agar tidak menghadiri undangan Bukber tanpa penjelasan yang jelas.
“Info terbaru, dimohon kepada teman-teman tidak usah ada yang ke Rujab, alasannya nanti dibahas,” demikian bunyi pesan yang beredar luas.
Dampaknya cukup mencolok dari ratusan kepala sekolah tingkat SD dan SMP di Takalar, hanya tiga kepala sekolah dasar yang diketahui hadir. Kondisi ini memunculkan dugaan bahwa banyak pihak memilih tidak datang karena adanya kekhawatiran, termasuk isu sensitif terkait mutasi jabatan.
Seorang sumber internal menyebutkan, situasi saat itu membuat para kepala sekolah berada dalam posisi serba sulit. Dilain sisi menerima undangan resmi, di sisi lain muncul imbauan yang tidak jelas dasar dan tujuannya.
“Pesan itu muncul tiba-tiba dan membuat kami bingung. Tidak ada penjelasan resmi, jadi banyak yang memilih bermain aman,” ungkap salah seorang kepala sekolah yang tak ingin disebutkan namanya, Senin (23/3/2026).
Di tengah polemik tersebut, acara Bukber di Rujab Wakil Bupati tetap berlangsung meriah. Ribuan tamu dari berbagai kalangan hadir, mulai dari unsur pemerintah daerah, tokoh masyarakat, tokoh agama hingga anggota DPRD. Kegiatan juga dirangkaikan dengan pembagian sembako dan doorprize.
Menariknya, suasana berbeda terlihat pada kegiatan Bukber sebelumnya yang digelar di Rujab Bupati Takalar pada Jumat (6/3/2026). Kala itu, beredar informasi bahwa sejumlah camat turut berpartisipasi dengan membawa berbagai kebutuhan dapur, seperti daging, ayam, telur hingga bumbu masakan.
Perbedaan mencolok antara dua agenda tersebut kini menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat. Dugaan adanya tekanan terhadap kepala sekolah serta isu partisipasi pejabat dalam bentuk kontribusi bahan makanan masih menjadi bahan perbincangan, bahkan setelah ramadhan berakhir.
Hingga kini, belum ada klarifikasi resmi terkait asal-usul instruksi dalam grup WhatsApp tersebut. Publik pun masih menunggu penjelasan dari pihak terkait guna menjawab berbagai pertanyaan yang muncul dari polemik ini.(*)







