Abdul Hamid, S.Pd.: Pendidikan Moral yang Baik Akan Melahirkan Generasi Berakhlak dan Berprestasi

Avatar of IAN
Kepala SMPN4 Labbakkang Pangkep 20260604 112841 0000 l Update Sulsel

PANGKEP, UPDATESULSEL.ID– Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi dunia pendidikan saat ini, mulai dari menurunnya etika pergaulan, maraknya perundungan, hingga pengaruh negatif perkembangan teknologi dan media sosial, pendidikan moral kembali menjadi perhatian utama.

Menurut Abdul Hamid, S.Pd., selaku Kepala SMAN 4 Labbakkang, Pangkep keberhasilan pendidikan tidak boleh hanya diukur dari angka-angka akademik semata, tetapi juga dari kemampuan sekolah dan keluarga dalam membentuk karakter peserta didik yang berakhlak mulia.

Abdul Hamid menegaskan bahwa pendidikan moral merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Ia menilai bahwa kecerdasan intelektual tanpa dibarengi moral yang kuat berpotensi melahirkan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi lemah dalam integritas, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.

“Selama ini, orientasi pendidikan sering kali terlalu fokus pada capaian nilai, peringkat, dan kelulusan akademik. Padahal, tujuan utama pendidikan adalah membentuk manusia yang berkarakter, beretika, dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Pendidikan moral yang baik akan menciptakan generasi berakhlak yang kemudian diikuti oleh pencapaian akademik yang mumpuni,” ujar Abdul Hamid.


Menurutnya, berbagai persoalan sosial yang melibatkan pelajar menjadi bukti bahwa penguatan karakter tidak boleh ditempatkan sebagai pelengkap dalam sistem pendidikan.

Kasus perundungan, kekerasan di lingkungan sekolah, rendahnya sikap hormat kepada guru dan orang tua, serta meningkatnya perilaku tidak jujur dalam proses pembelajaran harus menjadi alarm bagi semua pihak.


Abdul Hamid juga mengkritisi kecenderungan sebagian lembaga pendidikan yang lebih menonjolkan prestasi akademik sebagai ukuran keberhasilan utama. Ia menilai pendekatan tersebut perlu dievaluasi secara menyeluruh karena berisiko mengabaikan pembentukan karakter peserta didik.

“Bangsa ini tidak hanya membutuhkan generasi yang pandai menghitung, menghafal, dan menguasai teknologi. Kita membutuhkan generasi yang memiliki kejujuran, disiplin, tanggung jawab, empati, dan integritas. Prestasi akademik yang tinggi tidak akan memiliki makna apabila tidak diiringi dengan akhlak yang baik,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pendidikan moral bukan hanya tanggung jawab sekolah. Keluarga memiliki peran sentral sebagai lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak. Sementara itu, masyarakat juga harus turut menciptakan ekosistem yang mendukung tumbuhnya nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pandangannya, kolaborasi antara sekolah, keluarga, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci untuk melahirkan generasi unggul yang tidak hanya kompetitif secara akademik, tetapi juga matang secara moral dan sosial. Tanpa sinergi tersebut, berbagai program pendidikan karakter yang dirancang dengan baik akan sulit mencapai hasil yang maksimal.
Abdul Hamid mengingatkan bahwa tantangan masa depan semakin kompleks.

Kemajuan teknologi, kecerdasan buatan, dan arus informasi yang tidak terbendung menuntut generasi muda memiliki kemampuan menyaring informasi sekaligus keteguhan moral dalam mengambil keputusan. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus menjadi investasi jangka panjang yang ditempatkan sejajar dengan pengembangan kompetensi akademik.

“Jika kita ingin membangun bangsa yang kuat, maka pembangunan karakter harus dimulai dari ruang-ruang kelas, lingkungan keluarga, dan kehidupan masyarakat.

Pendidikan moral bukan sekadar pelajaran tambahan, melainkan fondasi utama yang menentukan arah masa depan bangsa. Generasi yang berakhlak akan tumbuh menjadi generasi yang bertanggung jawab, dan dari situlah lahir prestasi akademik, kepemimpinan, serta kemajuan yang berkelanjutan,” pungkas Abdul Hamid.

Pernyataan Abdul Hamid menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan sejatinya tidak hanya tercermin dari tingginya nilai rapor atau capaian akademik, melainkan dari lahirnya generasi yang mampu menjaga integritas, menghormati sesama, serta berkontribusi positif bagi bangsa. Pendidikan moral yang kuat bukan penghambat kemajuan akademik, melainkan fondasi yang memperkuat dan mengarahkan setiap pencapaian menuju kemaslahatan bersama.(*)