Anak Tumbuh di Era Digital, Siapa Yang Menjaga Akhlaknya? Buku Ini Jawabannya

OPINI,UPDATESULSEL.ID,— Anak-anak hari ini tumbuh di tengah dunia yang nyaris tanpa batas. Informasi datang dari layar, media sosial menjadi bagian dari keseharian, sementara nilai dan karakter tidak selalu mudah dibentuk hanya melalui pendidikan formal.

Di tengah kondisi tersebut, pertanyaan penting muncul: siapa yang paling bertanggung jawab menjaga akhlak generasi ketika dunia digital semakin masuk ke ruang keluarga?

Pasang Iklan Update Sulsel

Pertanyaan itu menjadi salah satu gagasan yang diangkat dalam buku Membangun Peradaban dari Rumah: Perempuan Tangguh, Remaja Berakhlak, Keluarga Berdaya karya Hj. Masnawati Mappasawang, S.H., M.Kn (Anggota Komisi Perempuan dan Remaja Majelis Ulama Indonesia Sulawesi Selatan)Buku ini menempatkan keluarga sebagai fondasi pertama dalam membangun karakter anak. Rumah bukan sekadar tempat tinggal, tetapi ruang awal untuk menanamkan keimanan, membentuk akhlak, serta membangun kepribadian generasi muda.

Kehidupan modern, menurut gagasan dalam buku tersebut, menghadirkan tantangan yang semakin kompleks. Perubahan sosial, perkembangan teknologi, hingga derasnya arus informasi digital menuntut keluarga untuk mampu beradaptasi tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi pegangan.

Akademik Saja Tidak Cukup

Pendidikan anak tidak berhenti pada nilai rapor, prestasi sekolah, atau kemampuan menguasai teknologi. Karakter, keimanan, tanggung jawab, dan akhlak juga menjadi bagian penting yang perlu dibentuk sejak lingkungan terdekat: rumah.

Disinilah Peran Perempuan Mendapat Perhatian Khusus

Buku tersebut menyoroti posisi strategis perempuan dalam membangun keluarga yang kuat. Perempuan memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan keluarga yang mendukung tumbuhnya generasi berkarakter, berakhlak, dan memiliki daya tahan menghadapi perubahan zaman.

Namun, tantangan tidak berhenti pada peran perempuan. Remaja juga menjadi titik krusial. Generasi muda merupakan kelompok yang sangat dekat dengan gadget, media sosial, dan berbagai arus informasi. Tanpa pendampingan dan penguatan nilai, derasnya informasi dapat menjadi tantangan tersendiri dalam pembentukan karakter.

Karena itu, keluarga dituntut tidak sekadar menjadi tempat anak pulang, tetapi juga menjadi tempat anak belajar memilah, memahami, dan mengambil sikap terhadap dunia yang mereka hadapi.

Melalui buku ini, gagasan membangun peradaban dikembalikan pada fondasi paling sederhana: rumah.

Sebab, sebelum berbicara tentang generasi emas, masyarakat berakhlak, atau masa depan bangsa, ada satu ruang yang lebih dulu menentukan arah semuanya—keluarga.

Perempuan tangguh, remaja berakhlak, dan keluarga berdaya kemudian menjadi tiga gagasan utama yang ditawarkan sebagai bagian dari upaya membangun peradaban dari rumah.

Hj. Masnawati Mappasawang merupakan anggota Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (KPRK) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan.Selain aktif di MUI Sulsel, Masnawati juga aktif sebagai Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) dan Tarbiyah Notaris Muslim Indonesia. (Irfan Suba Raya)