TAKALAR, UPDATESULSEL.D— Tradisi Ma’udu’ Lompoa ri Cikoang tidak sekadar menjadi perayaan keagamaan bagi masyarakat Kabupaten Takalar. Lebih dari itu, tradisi yang diwariskan secara turun-temurun tersebut menjadi bagian penting dari identitas budaya, sejarah, serta nilai kebersamaan masyarakat Cikoang.
Di tengah perkembangan zaman dan pesatnya arus digitalisasi, generasi muda dinilai memiliki posisi strategis untuk memastikan tradisi tersebut tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya.
Hal itu disampaikan Bilal Rahmat Idris, Winner Putera Ekonomi Kreatif Sulawesi Selatan dan Barat 2026 yang juga merupakan Putera Asal Kabupaten Takalar, kepada awak Media Update Sulsel, Jumat (28/8/2026) melalui daring.
Bilal mengatakan, Ma’udu’ Lompoa ri Cikoang merupakan warisan budaya yang memiliki nilai sejarah dan keagamaan yang kuat. Karena itu, pelestariannya tidak cukup hanya mengandalkan generasi terdahulu, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif anak muda.
“Bagi saya, Ma’udu’ Lompoa bukan sekadar sebuah perayaan, tetapi merupakan warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, keagamaan, dan kebersamaan. Generasi muda harus mengambil bagian dalam menjaga dan memperkenalkannya kepada masyarakat luas,” ujar Bilal.
Menurutnya, perkembangan teknologi justru dapat menjadi peluang besar dalam memperkenalkan budaya lokal kepada khalayak yang lebih luas. Generasi muda dapat memanfaatkan media sosial, produksi konten kreatif, hingga berbagai inovasi ekonomi kreatif untuk mengangkat nilai dan keunikan Ma’udu’ Lompoa ri Cikoang.
Ia menilai, pelestarian budaya di era digital tidak harus dilakukan dengan meninggalkan perkembangan zaman. Sebaliknya, budaya lokal dapat dikemas secara kreatif sehingga lebih mudah diterima dan dipahami oleh generasi muda.
“Budaya harus kita rawat, tetapi cara memperkenalkannya juga harus mengikuti perkembangan zaman. Media digital dan ekonomi kreatif bisa menjadi ruang bagi anak muda untuk memperkenalkan budaya Takalar kepada masyarakat yang lebih luas,” jelasnya.
Bilal berharap Ma’udu’ Lompoa ri Cikoang tidak hanya terus menjadi kebanggaan masyarakat Takalar dan Sulawesi Selatan, tetapi juga mampu mendapatkan perhatian lebih luas di tingkat nasional.
Baginya, keberadaan tradisi lokal merupakan kekuatan yang dapat menjadi identitas sekaligus potensi pengembangan ekonomi kreatif daerah apabila dikelola secara tepat dan berkelanjutan.
“Budaya bukan hanya warisan dari masa lalu, tetapi identitas yang harus kita jaga dan kita bawa menuju masa depan. Karena itu, mari bersama-sama menjaga Ma’udu’ Lompoa agar tetap hidup dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya,” tuturnya.
Sebagai Winner Putera Ekonomi Kreatif Sulselbar 2026, Bilal juga menegaskan komitmennya untuk mendorong keterlibatan generasi muda dalam pelestarian budaya sekaligus mengembangkan potensi kreatif yang dimiliki daerah.
Ia berharap semakin banyak anak muda Takalar yang berani menjadi bagian dari gerakan pelestarian budaya, bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai penggerak, kreator, dan generasi penerus.
“Dari Takalar, kita jaga budaya. Dari generasi muda, kita bangun masa depan,” pungkas Bilal. (*)








