PANGKEP, UPDATESULSEL.ID – Pelayanan di RSUD Batara Siang kembali menjadi sorotan publik. Direktur rumah sakit, dr. Marlina Made, Sp.DVE, menghadapi gelombang kritik setelah muncul sejumlah persoalan serius yang dinilai mencerminkan buruknya manajemen pelayanan kesehatan di rumah sakit milik pemerintah daerah tersebut.
Berbagai keluhan masyarakat terus bermunculan, mulai dari sistem pelayanan yang dianggap amburadul, dugaan perlakuan tidak profesional petugas Instalasi Gawat Darurat (IGD), hingga kasus dugaan kelalaian medis yang berujung pada meninggalnya pasien kritis.
Sistem Antrian Dinilai Kacau di RSUD Batara Siang Pangkep
Keluhan paling banyak datang dari pasien terkait sistem pendaftaran dan antrian pelayanan. Warga mengaku pendaftaran online yang seharusnya mempermudah pelayanan justru sering diabaikan, sementara pasien dengan antrian manual tetap diprioritaskan.
Kondisi ini memicu kekecewaan masyarakat karena dinilai mencerminkan lemahnya pengelolaan sistem pelayanan rumah sakit. Beberapa keluarga pasien menyebut mereka harus menunggu berjam-jam tanpa kepastian, meskipun telah mengikuti prosedur pendaftaran secara resmi.
Petugas IGD Dituding Bersikap Kasar
Selain masalah antrian, sejumlah keluarga pasien juga mengaku mendapat perlakuan tidak menyenangkan saat membawa pasien dalam kondisi darurat ke IGD. Beberapa di antaranya mengaku dimarahi oleh petugas ketika meminta percepatan penanganan medis.
Perlakuan tersebut dinilai bertentangan dengan prinsip pelayanan kesehatan yang seharusnya mengedepankan sikap humanis, empati, dan profesionalisme terhadap pasien maupun keluarga pasien.
Kritik juga datang dari masyarakat kepulauan yang merasa pelayanan terhadap pasien rujukan dari daerah terpencil belum maksimal. Bahkan, beredar laporan bahwa tenaga kesehatan dari puskesmas yang mengantar pasien turut mendapat perlakuan tidak pantas di ruang IGD.
Dugaan Kelalaian Medis Jadi Sorotan
Sorotan paling tajam muncul setelah meninggalnya seorang pasien kritis bernama Asriadi pada Desember 2025. Keluarga pasien menilai penanganan medis berjalan lambat dan tidak maksimal.
Menurut keterangan keluarga, saat kondisi pasien memburuk, penanganan awal disebut hanya dilakukan oleh dokter koas tanpa kehadiran dokter spesialis. Keluarga juga mempertanyakan lambannya proses rujukan ke rumah sakit yang lebih lengkap di Makassar.
Kasus tersebut memicu reaksi luas dari masyarakat dan aktivis kesehatan yang menilai rumah sakit daerah harus memiliki kesiapan maksimal dalam menangani pasien darurat.
Desakan Evaluasi hingga Mundur
Gelombang kritik kini berkembang menjadi tuntutan evaluasi menyeluruh terhadap manajemen rumah sakit. Sejumlah aktivis, tokoh masyarakat, hingga anggota dewan disebut mulai mendesak adanya pembenahan total di tubuh RSUD Batara Siang.
Direktur rumah sakit juga menjadi sasaran kritik karena dianggap belum mampu memperbaiki kualitas pelayanan di tengah banyaknya keluhan masyarakat.
Publik menilai persoalan yang terjadi bukan lagi sekadar insiden pelayanan biasa, melainkan sudah mengarah pada krisis sistemik dalam tata kelola rumah sakit daerah.
Jika tidak segera dibenahi secara serius, kepercayaan masyarakat terhadap RSUD Batara Siang dikhawatirkan akan terus menurun dan berdampak langsung pada akses pelayanan kesehatan warga Kabupaten Pangkep, khususnya masyarakat dari wilayah kepulauan.(*)









