TAKALAR, UPDATESULSEL.ID- Tragedi memilukan terjadi di lokasi pembangunan Sekolah Rakyat (SR) yang merupakan bagian dari program prioritas nasional Presiden Prabowo Subianto di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Dua bocah balita dilaporkan meninggal dunia setelah ditemukan tenggelam di area proyek yang sedang dikerjakan.
Korban diketahui bernama Arzak (4) dan Asril (3), warga Desa Parappunganta, Kecamatan Polongbangkeng Utara. Keduanya ditemukan tidak bernyawa di sebuah kolam bekas galian bak penampungan kamar mandi yang berada di dalam kawasan proyek pembangunan Sekolah Rakyat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kedua anak tersebut terakhir kali terlihat bermain di luar rumah sekitar pukul 15.40 WITA pada Rabu (27/5/2026). Ketika malam tiba dan keduanya tak kunjung pulang, keluarga bersama warga setempat langsung melakukan pencarian.
Pencarian dilakukan di berbagai lokasi yang biasa menjadi tempat bermain anak-anak, termasuk di sekitar jembatan dekat SPBU Palleko. Namun upaya tersebut belum membuahkan hasil hingga akhirnya warga memperluas pencarian ke area proyek pembangunan Sekolah Rakyat.
Sekitar pukul 21.00 WITA, personel Polsek Polongbangkeng Utara bersama warga dan sejumlah pekerja proyek melakukan penyisiran di dalam lokasi pembangunan. Saat itulah kedua korban ditemukan di dalam kolam galian dalam kondisi sudah meninggal dunia.
Peristiwa tersebut sontak mengundang duka mendalam bagi keluarga korban maupun masyarakat sekitar. Aparat kepolisian dari Satreskrim Polres Takalar segera turun ke lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi guna mengungkap kronologi lengkap insiden tersebut.
Sementara itu, pihak pelaksana proyek, Nindya BPS-KSO selaku kontraktor pembangunan Sekolah Rakyat Wilayah II Sulawesi Selatan, menyatakan telah memberikan santunan kepada keluarga kedua korban.
Pengawas proyek, Putu, mengatakan bantuan tersebut telah diserahkan langsung kepada orang tua masing-masing korban sebagai bentuk kepedulian atas musibah yang terjadi.
“Kami memastikan keluarga korban telah menerima santunan. Bantuan itu langsung kami serahkan kepada pihak keluarga setelah kejadian,” ujarnya saat dikonfirmasi, Sabtu (30/5/2026).
Menurutnya, lokasi tempat ditemukannya kedua korban saat ini masih dipasangi garis polisi dan belum dapat digunakan hingga proses penyelidikan selesai.
Ia juga menegaskan bahwa pihak perusahaan akan mengikuti seluruh prosedur yang ditetapkan aparat penegak hukum terkait insiden tersebut. Meski demikian, pekerjaan proyek tetap berjalan sesuai target penyelesaian yang direncanakan pada akhir Juli 2026.
Menanggapi tragedi itu, Bupati Takalar, Muhammad Firdaus Daeng Manye, meminta pihak kontraktor untuk bertanggung jawab dan meningkatkan standar pengamanan di kawasan proyek.
“Saya meminta perusahaan pelaksana proyek agar bertanggung jawab atas kejadian ini. Sistem pengamanan harus diperketat demi melindungi warga sekitar maupun para pekerja sehingga peristiwa serupa tidak kembali terjadi,” tegas Firdaus usai mengunjungi keluarga korban.
Tragedi ini menjadi perhatian publik sekaligus pengingat pentingnya penerapan standar keselamatan dan pengamanan yang ketat di setiap proyek pembangunan, terutama yang berada di tengah lingkungan masyarakat.(*)







