Hukum  

LKBH Minasa Keadilan Dukung Penyelidikan Polisi atas Kematian Dua Bocah di Proyek Sekolah Rakyat Takalar

Avatar of IAN
IMG 20260530 WA0056 l Update Sulsel

TAKALAR, UPDATESULSEL. ID– Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Minasa Keadilan Takalar menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Polres Takalar yang saat ini tengah menyelidiki kasus meninggalnya dua bocah di area proyek pembangunan Sekolah Rakyat di Dusun Bontosunggu, Desa Parappuanta, Kecamatan Polongbangkeng Utara.

Ketua LKBH Minasa Keadilan, Muhammad Arsyad DS, SH, menegaskan bahwa proses hukum harus berjalan secara profesional dan transparan guna mengungkap penyebab pasti meninggalnya kedua korban.

“Kami mendukung penuh langkah Polres Takalar yang telah melakukan penyelidikan terkait meninggalnya dua anak di lokasi proyek Sekolah Rakyat. Peristiwa ini harus diusut secara tuntas agar masyarakat mendapatkan kejelasan,” ujar Arsyad, Rabu (3/6/2026).

Diketahui, dua bocah yang menjadi korban, Arzak (4) dan Asril (3), ditemukan meninggal dunia pada Rabu malam (27/5/2026) di kawasan proyek pembangunan Sekolah Rakyat yang sementara berlangsung di wilayah tersebut.

Arsyad berharap penyidik segera melakukan gelar perkara dan meningkatkan status penanganan ke tahap penyidikan apabila ditemukan indikasi yang mengarah pada unsur pidana atau kelalaian.

“Saya percaya Satreskrim Polres Takalar akan bekerja secara serius dan profesional dalam menangani perkara ini. Kami menunggu hasil penyelidikan yang objektif dan sesuai fakta yang ditemukan di lapangan,” katanya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Takalar, Iptu Haryanto, membenarkan bahwa pihaknya telah memeriksa sejumlah saksi guna mengungkap kronologi dan penyebab pasti insiden tragis tersebut.

“Benar, saat ini sudah ada empat orang saksi yang kami mintai keterangan. Proses penyelidikan masih berjalan untuk mengumpulkan fakta-fakta yang diperlukan,” ungkapnya.

Menurut Haryanto, pemeriksaan dilakukan untuk mendalami kemungkinan adanya unsur kelalaian dalam pelaksanaan proyek pembangunan yang berpotensi menyebabkan hilangnya nyawa kedua korban.

Selain memeriksa saksi, penyidik juga menelusuri aspek pengamanan lokasi proyek, termasuk standar keselamatan kerja dan keberadaan galian septic tank yang diduga menjadi lokasi ditemukannya kedua korban.

“Kami masih melakukan pendalaman. Semua pihak yang berkaitan dengan proyek akan dimintai keterangan sesuai kebutuhan penyelidikan,” tambahnya.

Kasus ini mendapat perhatian luas dari masyarakat Takalar. Sejumlah warga menilai area proyek seharusnya memiliki sistem pengamanan yang memadai untuk mencegah anak-anak maupun warga memasuki zona yang berisiko.

Salah seorang warga, Daeng Liwang, mendesak aparat penegak hukum untuk menangani kasus tersebut secara serius dan tidak menganggapnya sebagai musibah biasa.

“Jika nantinya ditemukan adanya unsur kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain, maka pihak yang bertanggung jawab harus diproses sesuai hukum yang berlaku,” tegasnya.

Ia juga meminta proses penyelidikan dilakukan secara terbuka agar masyarakat dapat mengetahui perkembangan penanganan perkara, mulai dari pemeriksaan saksi hingga hasil pengumpulan alat bukti.

“Transparansi sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap proses penegakan hukum,” ujarnya.

Saat ini, Satreskrim Polres Takalar terus mengumpulkan keterangan dan alat bukti guna memastikan ada atau tidaknya unsur kelalaian maupun pelanggaran hukum lainnya dalam peristiwa yang merenggut nyawa dua anak balita tersebut.

Sebagai bagian dari proses penyelidikan, polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memasang garis polisi di area galian yang menjadi lokasi ditemukannya kedua korban.(*)