TAKALAR, UPDATESULSEL.ID– Maraknya kejahatan digital menjadi sorotan utama dalam program talkshow Takalar Menyapa yang kembali mengudara, Rabu (8/04/2026).
Disiarkan langsung dari Studio Radio Suara Lipang Bajeng di bawah naungan Dinas Kominfo-SP Takalar, tema “Modus Penipuan Online” diangkat sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat.
Dipandu oleh host Hesty, acara ini menghadirkan Kepala Seksi pada Bidang Intelijen Kejaksaan Negeri Takalar, Median Suwardi, yang mengupas berbagai pola penipuan yang kini semakin beragam dan canggih.
Dalam pemaparannya, Median menegaskan bahwa masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan terhadap segala bentuk penipuan, baik yang dilakukan melalui platform digital, panggilan telepon, maupun pesan singkat.
“Penipuan saat ini hadir dalam berbagai bentuk. Masyarakat harus lebih hati-hati terhadap tawaran yang tidak masuk akal, hadiah instan, atau transaksi mencurigakan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pelaku umumnya menggunakan pola yang berulang, seperti menawarkan keuntungan besar dalam waktu singkat, menjual barang dengan harga jauh di bawah pasaran, hingga meminta data pribadi korban. Tak jarang, metode pembayaran yang digunakan juga tidak lazim untuk menghindari pelacakan.
Lebih lanjut, Median mengimbau masyarakat agar selalu memverifikasi setiap informasi sebelum mengambil keputusan. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain memastikan keaslian alamat situs (URL), tidak sembarangan mengklik tautan asing, serta mengecek kredibilitas akun atau penjual yang minim aktivitas.
Tak hanya itu, penipuan melalui telepon dan SMS juga masih menjadi ancaman serius. Pelaku sering kali mengaku sebagai pihak dari instansi resmi atau lembaga keuangan untuk meyakinkan korban.
“Jika menerima panggilan mencurigakan, sebaiknya langsung dihentikan dan lakukan konfirmasi melalui kanal resmi instansi terkait,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Median juga menyoroti perkembangan terbaru modus penipuan yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI). Salah satu yang patut diwaspadai adalah teknik deepfake voice, di mana pelaku mampu meniru suara seseorang secara sangat meyakinkan.
Modus ini dinilai berbahaya karena dapat menyasar korban dengan menyamar sebagai keluarga, atasan, atau pejabat tertentu guna meminta transfer uang atau data penting.
Menghadapi ancaman ini, Median menekankan pentingnya kombinasi antara literasi digital dan pemahaman hukum. Ia berharap masyarakat tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga lebih kritis dalam menyaring setiap informasi yang diterima.
“Kesadaran dan kehati-hatian menjadi benteng utama agar tidak terjerat penipuan,” pungkasnya.(*)







