Menu MBG di Galut Diduga Bau dan Tak Layak Konsumsi, Warga Desak Evaluasi Total SPPG Takalar

IMG 20260227 WA0157

TAKALAR, UPDATESULSEL.ID– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, menuai sorotan. Seorang warga mengeluhkan kualitas menu yang diterima keluarganya karena dinilai tidak sesuai standar gizi, bahkan disebut berbau tidak sedap.

Keluhan itu disampaikan Nurlinda Taco setelah melihat langsung paket makanan yang diterima ponakannya pada Rabu (25/2/2026). Ia mengaku terkejut karena menu yang dibagikan dianggap lebih menyerupai camilan ketimbang makanan bergizi.

“Begitu saya lihat, kok hanya seperti ini. Ini lebih mirip camilan, bukan menu makan bergizi seperti yang sering disampaikan pemerintah,” ujarnya, Jumat (27/2/2026).

Menurut Nurlinda, selain kualitas roti yang dinilai rendah, terdapat menu singkong keju yang diduga sudah tidak segar. Ia menyebut singkong tersebut mengeluarkan aroma tak sedap, bahkan baunya melekat di tangan setelah disentuh.

“Kami sangat menyayangkan jika makanan yang dibagikan dalam kondisi tidak layak konsumsi. Ini menyangkut kesehatan anak-anak sebagai penerima manfaat,” tegasnya.

Ia menilai program sebesar MBG seharusnya mengedepankan mutu dan pengawasan ketat. Efisiensi anggaran, kata dia, tidak boleh menjadi alasan untuk menurunkan kualitas makanan.

Nurlinda mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap proses pengadaan bahan, penyimpanan, distribusi, hingga pengawasan kualitas di tingkat pelaksana, khususnya pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Takalar.

“Kami berharap ada perbaikan nyata agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” tambahnya.

Menanggapi keluhan tersebut, Koordinator SPPG Takalar, Maulana, menyampaikan permohonan maaf dan memastikan pihaknya telah menerima informasi dari warga.

“Iya, kami sudah mendapat laporan. Kami langsung meminta pengelola dapur MBG untuk turun mengecek ke lapangan, terutama kepada penerima manfaat yang menyampaikan keluhan,” jelas Maulana saat dikonfirmasi.

Ia menegaskan bahwa pengelola dapur telah diarahkan untuk menyampaikan permohonan maaf secara langsung apabila ditemukan ketidaksesuaian standar. Selain itu, pihaknya berjanji akan melakukan evaluasi berkala terhadap menu yang disalurkan.

“Kalau memang terbukti tidak sesuai standar gizi, tentu akan kami perbaiki. Namun jika setelah pengecekan ternyata tidak benar, kami juga menyayangkan jika ada informasi yang menimbulkan kegaduhan,” tutupnya.

Kasus ini kembali menjadi perhatian publik, mengingat program MBG digadang-gadang sebagai upaya strategis meningkatkan asupan gizi anak. Transparansi dan pengawasan ketat dinilai menjadi kunci agar manfaat program benar-benar dirasakan masyarakat.(Saifuddin Gassing)