MAKASSAR, UPDATESULSEL.ID — Persoalan kelangkaan BBM dan LPG di Kota Makassar kembali memantik gerakan mahasiswa. Kali ini, Cipayung Plus Kota Makassar menggelar aksi di kantor Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Selasa (15/9/2026).
Cipayung Plus yang terdiri dari PMKRI, GMKI, GMNI, PMII, HMI Makassar Timur, KAMMI, dan LMND membawa grand isu “Makassar Gelap: Migas Sulit dan Rakyat Menjerit.” Aksi tersebut dipimpin Jenderal Lapangan Febri Tiring. Massa mendesak Pertamina tidak hanya memberikan penjelasan normatif, tetapi segera mengambil langkah konkret mengatasi persoalan distribusi BBM dan LPG yang dinilai meresahkan masyarakat.
Aksi berlangsung alot sebelum massa akhirnya diterima sejumlah pihak dari Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi.
Dalam pertemuan tersebut, enam tuntutan Cipayung Plus akhirnya ditandatangani oleh pihak Pertamina yang menemui massa.
Namun, mahasiswa menegaskan tanda tangan tersebut bukan akhir perjuangan.
Justru, penandatanganan itu menjadi awal bagi Cipayung Plus untuk mengawal janji penyelesaian persoalan migas di Kota Makassar.
Enam Tuntutan Cipayung PlusEnam tuntutan yang disampaikan Cipayung Plus Kota Makassar yakni:
- Mengusut tuntas dugaan mafia migas.
- Membuka transparansi pendistribusian migas.
- Memberikan sanksi tegas terhadap oknum yang memainkan harga untuk kepentingan pribadi maupun kelompok.
- Menghentikan pengisian BBM bagi kendaraan perusahaan yang tidak memiliki SPBP.
- Membuka transparansi data pemilik setiap SPBU di Kota Makassar sebagai bahan tindak lanjut dialog dengan pimpinan EGM Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi.
- Mencopot EGM Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi apabila dalam waktu 3×24 jam persoalan yang dipersoalkan tidak teratasi.
Febri Tiring ; Kami Akan Kawal, Bukan Sekadar Menonton
Jenderal Lapangan Cipayung Plus Kota Makassar, Febri Tiring, menegaskan mahasiswa tidak akan berhenti hanya karena tuntutan telah ditandatangani.
Menurutnya, masyarakat membutuhkan bukti nyata, bukan sekadar komitmen di atas kertas.
“Kami akan mengawal langkah pihak Pertamina untuk menuntaskan masalah kelangkaan BBM dan LPG di Kota Makassar. Penandatanganan tuntutan ini harus dibuktikan dengan tindakan nyata,” tegas Febri Tiring.
Cipayung Plus mempertanyakan bagaimana distribusi migas dapat disebut berjalan baik jika masyarakat masih dihadapkan pada kelangkaan dan antrean panjang.
Bagi mahasiswa, persoalan tersebut tidak semata-mata persoalan teknis distribusi. Transparansi rantai distribusi juga dinilai penting agar publik dapat mengetahui titik persoalan sebenarnya.
Mahasiswa juga mendesak pengawasan lebih ketat terhadap distribusi BBM dan LPG. Jika ditemukan pelanggaran maupun permainan harga oleh oknum, mereka meminta sanksi tegas diberikan.
Ultimatum 3x24Jam
Tekanan paling keras datang melalui ultimatum 3×24 jam yang diberikan Cipayung Plus kepada Pertamina.
Mahasiswa meminta dalam tenggat tersebut harus ada perkembangan nyata terkait tuntutan yang telah disepakati.
Jika tidak ditindaklanjuti sebagaimana yang diharapkan, Cipayung Plus menyatakan akan kembali mempertanyakan posisi pimpinan Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, termasuk tuntutan pencopotan EGM.
Ultimatum tersebut menjadi sinyal bahwa aksi mahasiswa belum selesai.
Bagi Cipayung Plus, tanda tangan di atas kertas bukan ukuran keberhasilan. Ukuran sebenarnya adalah ketika BBM kembali tersedia, LPG tidak sulit diperoleh, distribusi lebih transparan, dan masyarakat tidak lagi menjadi pihak yang dirugikan.
Dengan membawa suara “Makassar Gelap, Migas Sulit dan Rakyat Menjerit”, Cipayung Plus memastikan akan terus mengawal persoalan tersebut.
Kini bola berada di tangan Pertamina.
Apakah enam tuntutan tersebut hanya akan menjadi hasil pertemuan, atau benar-benar menjadi titik awal pembenahan tata kelola migas di Kota Makassar?







