PANGKEP, UPDATESULSEL.ID – Sekolah Rakyat 67 Pangkep menghadirkan langkah inspiratif melalui program pemberdayaan pengembangan batik ciprat.Di tengah keterbatasan fasilitas dan minimnya ruang pengembangan keterampilan bagi anak berkebutuhan khusus, sekolah ini justru membangun gerakan kreatif yang memberi ruang berkarya sekaligus membangun kemandirian ekonomi siswa.
Program tersebut tidak hanya berorientasi pada kegiatan sosial semata, tetapi menjadi bentuk nyata pemberdayaan berbasis keterampilan. Para siswa disabilitas dilibatkan langsung dalam proses pembuatan Batik Ciprat, mulai dari mencampur warna, membuat pola, hingga teknik ciprat yang menjadi ciri khas batik tersebut.
Wali asuh dan instruktur Batik Ciprat, Agus Salim, mengatakan bahwa selama ini banyak anak disabilitas hanya dianggap sebagai penerima bantuan, bukan individu yang memiliki kemampuan untuk berkembang dan mandiri.
“Program ini bukan hanya tentang membuat kain batik, tetapi bagaimana anak-anak mendapatkan hak yang sama untuk produktif, dihargai, dan memiliki masa depan yang lebih baik,” ujarnya.
Di ruang belajar sederhana milik sekolah, kreativitas para siswa mulai tumbuh. Tangan-tangan yang sebelumnya dipandang memiliki keterbatasan justru mampu menghasilkan motif unik penuh warna yang lahir dari imajinasi mereka sendiri. Setiap karya dibuat tanpa pola yang seragam agar karakter masing-masing siswa tetap terlihat dalam setiap cipratan warna.
Menurut pihak sekolah, Batik Ciprat dipilih karena mampu menjadi media pembelajaran sekaligus terapi sosial. Selain melatih fokus, motorik, dan ketelitian, proses membatik juga membantu meningkatkan rasa percaya diri dan kemampuan interaksi sosial para siswa.
Kepala sekolah, Marwah, menegaskan bahwa pihaknya ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap anak disabilitas.
“Kami tidak ingin anak-anak hanya dikasihani. Mereka harus diberi kesempatan menunjukkan kemampuan. Batik ini bukan sekadar produk, tetapi simbol bahwa mereka mampu berkarya dan punya masa depan,” ungkapnya.
Meski masih menghadapi keterbatasan alat, bahan baku, dan dukungan anggaran, semangat para siswa dan pendamping tetap tinggi. Bahkan sebagian proses produksi dilakukan dengan fasilitas seadanya.
Program ini sekaligus menjadi kritik sosial terhadap masih minimnya perhatian terhadap pemberdayaan ekonomi anak disabilitas di daerah. Banyak bantuan yang berhenti pada seremoni, sementara ruang produksi dan keberlanjutan keterampilan masih sangat terbatas.
Melalui Batik Ciprat, Sekolah Rakyat 67 Pangkep berharap dapat membangun ekosistem usaha mandiri berbasis karya siswa. Ke depan, hasil produksi batik diharapkan tidak hanya tampil dalam kegiatan sekolah, tetapi juga mampu menembus pasar yang lebih luas dan memiliki nilai ekonomi nyata.
Dari ruang sederhana di Kabupaten Pangkep, lahir pesan besar bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya. Anak-anak disabilitas pun mampu menunjukkan kreativitas, semangat, dan masa depan yang layak untuk diperjuangkan.(*)







