PANGKEP, UPDATESULSEL.ID— Semangat berbagi dan mengabdi kembali ditunjukkan Komunitas Makassar Punya Cerita (MPC) melalui program Sapa Pelosok yang digelar di Kelurahan Bawasolo, Kecamatan Segeri, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), 28–30 Agustus 2026.
Selama tiga hari, puluhan relawan hadir di tengah masyarakat dengan membawa sejumlah kegiatan sosial, pendidikan, kesehatan, hingga aktivitas kebersamaan. Kehadiran mereka menjadi ruang untuk berbagi manfaat sekaligus membangun kedekatan dengan masyarakat di wilayah pelosok.
Rangkaian Sapa Pelosok diawali dengan aksi bersih-bersih masjid yang melibatkan relawan bersama masyarakat setempat. Kegiatan tersebut menjadi simbol awal semangat gotong royong yang menjadi bagian penting dari gerakan Makassar Punya Cerita.
Tidak berhenti di sana, para relawan kemudian menyambangi sekolah dasar untuk melaksanakan kegiatan mengajar dengan konsep pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan.
Selain memberikan materi pembelajaran, relawan juga mengedukasi para siswa mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Anak-anak diajak memahami pentingnya menjaga kebersihan diri, termasuk melalui praktik mencuci tangan dengan baik dan benar sebagai salah satu upaya menjaga kesehatan.
Keceriaan semakin terasa ketika anak-anak mengikuti berbagai perlombaan tradisional yang disiapkan panitia. Mulai dari lomba lari kelereng, memindahkan air dengan mata tertutup menggunakan topeng berbentuk kerucut, hingga joget balon.
Bukan sekedar permainan, berbagai kegiatan tersebut menjadi ruang bagi anak-anak untuk melatih keberanian, kerja sama, kreativitas, sekaligus menikmati suasana kebersamaan bersama para relawan.
Ketua Makassar Punya Cerita, Firahaspita, S.Si., mengapresiasi seluruh relawan dan anggota komunitas yang telah mengambil bagian dalam menyukseskan kegiatan tersebut.
“Kami sangat mengapresiasi seluruh teman-teman volunteer yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk ikut dalam kegiatan Sapa Pelosok ini. Begitu juga dengan seluruh anggota Makassar Punya Cerita yang sejak awal sampai kegiatan berakhir terus membersamai dan mengambil peran dalam setiap rangkaian kegiatan,” ujar Firahaspita.
Menurutnya, kebersamaan antara relawan dan masyarakat menjadi salah satu kekuatan utama dalam pelaksanaan Sapa Pelosok. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Kelurahan Bawasolo yang telah menyambut para relawan dengan hangat.
Antusiasme masyarakat, khususnya anak-anak yang aktif mengikuti kegiatan belajar, perlombaan, serta berinteraksi dengan relawan, menjadi pengalaman yang berkesan bagi Makassar Punya Cerita.
“Bagi kami, kegiatan ini bukan hanya tentang apa yang telah kami lakukan selama berada di Bawasolo, tetapi tentang kebersamaan yang terbangun antara komunitas, volunteer, dan masyarakat. Semoga silaturahmi yang terjalin tidak berhenti ketika kami kembali ke Makassar dan menjadi awal kolaborasi yang lebih panjang,” tambahnya.

Sementara itu, Founder Makassar Punya Cerita, Idil Akbar Ansar, S.Si., menegaskan bahwa Sapa Pelosok tidak sekadar menjadi kegiatan sosial yang berorientasi pada program.
Menurutnya, pengabdian sejatinya adalah tentang bagaimana seseorang mampu hadir, mendengar, berinteraksi, serta memahami kehidupan masyarakat secara lebih dekat.
“Sapa Pelosok ini bukan hanya tentang datang membawa program, kemudian selesai setelah kegiatan berakhir. Bagi kami, Sapa Pelosok adalah tentang bagaimana kita belajar untuk hadir lebih dekat dengan masyarakat, mendengar cerita mereka, berinteraksi, dan memahami bahwa setiap daerah memiliki kehidupan, tantangan, serta potensi yang luar biasa,” kata Idil.
Ia menilai, para relawan mungkin datang dengan niat untuk berbagi, namun selama berada di tengah masyarakat justru mendapatkan banyak pelajaran tentang kesederhanaan, solidaritas, dan semangat saling menguatkan.
Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi para relawan untuk terus menghadirkan gerakan kebaikan di berbagai wilayah lainnya.
Melalui Sapa Pelosok, Makassar Punya Cerita berharap kegiatan pengabdian masyarakat tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Lebih dari itu, gerakan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan sosial, memperluas semangat pendidikan, serta menumbuhkan harapan bagi anak-anak di wilayah pelosok.







