News  

Pertalite Langka, Pustaka Sabtu Sore Tetap Menyala di Gowa: “Santai Aja, Namanya Juga Hidup!

GOWA, UPDATESULSEL.ID – Di tengah antrean panjang kendaraan yang mengular di sejumlah SPBU Kabupaten Gowa akibat sulitnya mendapatkan Pertalite, sebuah pemandangan berbeda justru hadir di Lapangan Syekh Yusuf, Sabtu sore Pada 12 September 2026.

Bukan antrean kendaraan, melainkan deretan buku, obrolan dan aktivitas literasi. Pustaka Sabtu Sore kembali digelar, menjadi ruang perjumpaan bagi anak muda, pegiat literasi dan masyarakat untuk membaca sekaligus berbagi cerita di tengah situasi yang serba tidak pasti.

Bagi para pegiatnya, kondisi sulit mendapatkan BBM bukan alasan untuk menghentikan aktivitas membaca.

“Pertalite boleh langka, tetapi Pustaka Sabtu Sore tidak boleh ikut padam.” Kalimat itu menjadi semangat yang terasa dalam kegiatan tersebut.

Di saat sebagian warga sibuk menghitung sisa bensin di tangki kendaraan dan memperkirakan panjang antrean di SPBU, para pegiat literasi justru memilih menghidupkan ruang diskusi.

Buku-buku dibentangkan. Percakapan dibuka. Masyarakat dipertemukan dalam suasana santai namun penuh refleksi.

Founder Rumah Cerdas Bajeng Yang Juga Merupakan Founder Daeng Berdampak, Firdaus, mengatakan Pustaka Sabtu Sore bukan sekadar lapak membaca. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk saling mendengar dan menguatkan di tengah berbagai persoalan yang sedang dihadapi masyarakat.

Menariknya, sore itu juga hadir ruang obrolan yang diberi nama “obrol-obrol bau bensin”.

Ruang tersebut menjadi tempat masyarakat membicarakan berbagai pengalaman menghadapi kelangkaan BBM, mulai dari antrean panjang, keterbatasan waktu, hingga cara menghemat bahan bakar.

Ada yang datang membawa buku, ada yang membawa cerita, bahkan ada yang datang dengan sisa bensin yang harus dihemat.

Namun semuanya bertemu dalam satu ruang yang sama: ruang untuk membaca, berdiskusi dan saling menguatkan.

Dalam kegiatan tersebut, Firdaus juga membaca buku Santai Aja, Namanya Juga Hidup!.

Menurutnya, pesan dalam buku tersebut relevan dengan situasi masyarakat saat ini, terutama tentang bagaimana seseorang memperlakukan dirinya sendiri dan menghadapi berbagai keadaan kehidupan.

Ketika antrean panjang membuat emosi meningkat, BBM sulit diperoleh, serta waktu dan tenaga terkuras, masyarakat memang membutuhkan kesabaran.

Namun, menurutnya, sabar bukan berarti pasrah dan diam terhadap keadaan.

Masyarakat tetap memiliki ruang untuk bertanya dan menyampaikan kritik.

Mengapa masyarakat harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan BBM? Mengapa kebutuhan dasar justru berubah menjadi perjuangan yang melelahkan? Dan sampai kapan masyarakat harus terus beradaptasi dengan kondisi yang semestinya dapat dibenahi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dinilai penting untuk terus dibicarakan.Namun sembari menunggu solusi, masyarakat juga perlu menjaga kewarasan sosial dengan tetap membangun ruang-ruang positif.

Membaca, berdiskusi, bertemu dan saling menguatkan.“Akal Sehat Jangan Sampai Ikut Habis” Situasi sulit, kata Firdaus, tidak semestinya membuat masyarakat kehilangan kepedulian dan menjadi individualis.

Sebab tidak semua hal dapat dikendalikan oleh seseorang. Namun setiap orang masih memiliki pilihan tentang bagaimana merespons keadaan.

“Pertalite boleh langka. Antrean boleh panjang. Tetapi akal sehat, kepedulian dan semangat literasi jangan sampai ikut habis,” menjadi pesan yang mengemuka dari kegiatan Pustaka Sabtu Sore.

Dari Lapangan Syekh Yusuf, Gowa, gerakan literasi itu kembali mengingatkan bahwa menghadapi persoalan sosial tidak selalu harus dengan kemarahan.

Dengan buku, ruang diskusi dan akal yang merdeka, masyarakat tetap bisa melawan keadaan dengan elegan.