BULUKUMBA, UPDATESULSEL.ID – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Tahun Pelajaran 2026/2027 di UPT SMA Negeri 10 Bulukumba menghadirkan nuansa berbeda.
Selain mengenalkan lingkungan sekolah kepada peserta didik baru, pihak sekolah juga membekali siswa dengan wawasan mengenai etika digital, keamanan siber, dan pemanfaatan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) secara bijak.
Materi tersebut disampaikan oleh Dr. Muhammad Yusran, S.Kom., M.Kom., guru SMAN 15 Bulukumba yang juga merupakan Fasilitator Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA).
Kehadirannya menjadi bagian penting dalam upaya membangun karakter peserta didik agar mampu menghadapi tantangan dunia digital yang terus berkembang.
Dalam pemaparannya, Dr. Muhammad Yusran menegaskan bahwa aktivitas di ruang digital tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, setiap pelajar harus memahami pentingnya menjaga etika saat berinteraksi di media sosial, melindungi data pribadi, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
“Jejak digital akan selalu tertinggal. Apa yang kita tulis, unggah, maupun bagikan dapat memberikan dampak bagi diri sendiri maupun orang lain,” jelasnya di hadapan peserta MPLS.
Peserta didik juga dikenalkan pada konsep 3S, yakni Screen Time, Screen Zone, dan Screen Break. Melalui konsep tersebut, siswa diajak mengatur durasi penggunaan gawai, memilih tempat yang tepat untuk mengakses perangkat digital, serta memberikan waktu istirahat agar tetap sehat, fokus, dan produktif.
Tak hanya itu, siswa diajak mengevaluasi kebiasaan digital yang sering dilakukan, mulai dari bermain gawai hingga larut malam, membuka media sosial saat belajar, hingga mengklik tautan yang belum jelas keamanannya. Dari berbagai contoh tersebut, peserta didik dilatih membedakan perilaku digital yang aman dan yang berpotensi menimbulkan risiko.
Pada sesi literasi digital, pemateri juga mengingatkan pentingnya menjaga kesopanan dalam berkomunikasi di dunia maya. Menurutnya, kebebasan berpendapat harus tetap dibarengi sikap saling menghormati, tidak menyebarkan ujaran kebencian, serta tidak merendahkan orang lain.
Selain itu, peserta didik dibekali kemampuan mengenali informasi yang valid sebelum membagikannya. Mereka diperkenalkan pada langkah sederhana, yakni berhenti, berpikir, memeriksa, lalu membagikan, sebagai cara menangkal penyebaran hoaks dan informasi yang menyesatkan.
Materi keamanan siber juga menjadi perhatian utama. Siswa diberi pemahaman mengenai ancaman seperti phishing, pencurian data, peretasan akun, hingga penipuan digital. Mereka diingatkan agar tidak pernah memberikan informasi penting seperti kata sandi, PIN, OTP, maupun kode pemulihan akun kepada siapa pun.
Suasana pembelajaran semakin interaktif melalui permainan bertema “Aman atau Tidak Aman?”. Dalam sesi tersebut, siswa diajak menganalisis berbagai kasus, seperti penggunaan tanggal lahir sebagai kata sandi, membagikan OTP kepada orang lain, hingga menyalin seluruh jawaban dari AI tanpa memahami isi materi.
Pemanfaatan kecerdasan artifisial juga menjadi salah satu pembahasan yang mendapat perhatian besar. Dr. Muhammad Yusran menjelaskan bahwa AI dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar, seperti membantu memahami materi, mencari referensi, menyusun latihan, maupun merangkum informasi. Namun, AI tidak boleh dijadikan alat untuk mencontek, membuat informasi palsu, memalsukan foto atau suara, maupun memasukkan data pribadi.
“AI adalah alat bantu untuk memperkuat kemampuan berpikir, bukan menggantikan proses berpikir manusia,” tegasnya.
Pelaksanaan kegiatan ini menjadi bukti komitmen SMAN 10 Bulukumba dalam menghadirkan MPLS yang tidak sekadar bersifat seremonial, tetapi juga memberikan bekal keterampilan hidup yang relevan dengan perkembangan zaman.
Di sisi lain, keterlibatan guru dari SMAN 15 Bulukumba menunjukkan kuatnya kolaborasi antarsatuan pendidikan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran serta memperkuat literasi digital di kalangan pelajar.
Melalui kegiatan tersebut, peserta didik diajak menanamkan empat nilai utama dalam kehidupan digital, yakni Santun, Aman, Kritis, dan Bertanggung Jawab. Nilai-nilai itu diharapkan menjadi fondasi bagi lahirnya generasi muda yang cakap memanfaatkan teknologi tanpa meninggalkan etika dan karakter.
Dengan mengusung tema keadaban dan keamanan digital, MPLS Ramah 2026/2027 di SMAN 10 Bulukumba menjadi langkah nyata dalam menyiapkan peserta didik menghadapi era transformasi digital sekaligus membentuk generasi yang cerdas, berintegritas, dan siap bersaing di masa depan.(*)







