Penulis : Firdaus (Founder Daeng Berdampak)
Sebab, kualitas sebuah perjuangan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak orang yang berada di sekitar kita, tetapi oleh seberapa kuat nilai, komitmen, dan integritas orang-orang yang memilih untuk tetap berjalan bersama.
OPINI, UPDATESULSEL.ID – Dalam perspektif politik, kedekatan interpersonal tidak selalu merepresentasikan kesamaan orientasi perjuangan. Seseorang yang berada dekat secara sosial belum tentu memiliki kesamaan nilai, visi, maupun komitmen politik. Demikian pula, perbedaan pandangan tidak serta-merta menempatkan seseorang sebagai pihak yang harus diposisikan sebagai lawan. Pada titik inilah kedewasaan politik diuji, yakni melalui kemampuan membaca karakter, konsistensi sikap, serta orientasi kepentingan dari setiap aktor yang terlibat dalam suatu perjuangan.
Loyalitas dalam konteks politik tidak dapat dimaknai sebatas keberadaan fisik atau kedekatan personal. Loyalitas merupakan bentuk konsistensi dan komitmen terhadap nilai, tujuan, serta prinsip perjuangan yang telah disepakati. Karena itu, loyalitas tidak cukup diukur melalui intensitas pertemuan, kedekatan komunikasi, maupun frekuensi seseorang berada di sekitar kita. Loyalitas justru memperoleh makna yang lebih substantif ketika diuji oleh perbedaan kepentingan, tekanan politik, maupun situasi yang tidak menguntungkan.
Dalam dinamika politik, tantangan tidak selalu datang dari pihak yang secara terbuka menunjukkan oposisi. Tidak jarang, persoalan justru muncul dari lingkungan terdekat ketika terdapat perbedaan orientasi, kepentingan, atau komitmen. Kedekatan dapat menciptakan rasa percaya, tetapi kepercayaan tanpa kemampuan membaca karakter berpotensi melahirkan kesalahan dalam menentukan posisi dan membangun hubungan politik.
Oleh karena itu, relasi politik perlu dibangun berdasarkan pertimbangan yang rasional dan proporsional. Tidak setiap orang harus ditempatkan sebagai bagian dari lingkaran perjuangan yang sama. Ada individu yang cukup ditempatkan sebagai relasi sosial, ada yang dapat menjadi mitra bertukar gagasan, dan ada pula yang memiliki kesamaan visi sehingga layak menjadi mitra strategis dalam perjuangan. Kemampuan menempatkan seseorang secara proporsional merupakan bagian penting dari kecerdasan politik.
Namun demikian, perbedaan pandangan juga tidak seharusnya menjadi dasar untuk membangun permusuhan. Dalam sistem politik yang demokratis, perbedaan merupakan konsekuensi dari keberagaman kepentingan dan perspektif. Kritik, koreksi, maupun pilihan politik yang berbeda justru dapat menjadi mekanisme kontrol terhadap kekuasaan dan keputusan yang diambil. Bahkan, seseorang yang berani menyampaikan kritik secara konstruktif terkadang memiliki kontribusi yang lebih besar dibandingkan mereka yang selalu memberikan persetujuan.
Dalam konteks tersebut, kemampuan membaca karakter menjadi sama pentingnya dengan kemampuan membaca situasi politik. Karakter seseorang dapat dilihat melalui konsistensi antara ucapan dan tindakan, keberanian mempertahankan prinsip, serta sikap ketika berhadapan dengan perubahan kepentingan. Seseorang yang loyal tidak selalu hadir untuk memberikan pembenaran. Sebaliknya, ia mampu memberikan kritik ketika terdapat kekeliruan, sekaligus tetap menjaga komitmen terhadap tujuan perjuangan.
Kedewasaan politik pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memenangkan kompetisi, tetapi juga oleh kemampuan membangun dan mempertahankan relasi yang sehat. Politik membutuhkan kepercayaan, integritas, konsistensi, serta kemampuan mengelola perbedaan. Tanpa nilai-nilai tersebut, hubungan politik mudah berubah menjadi sekadar transaksi kepentingan yang bersifat pragmatis.
Ungkapan bahwa “dalam politik tidak ada kawan dan tidak ada lawan, yang ada hanya kepentingan” memang menggambarkan salah satu realitas dalam praktik politik. Namun, menjadikan kepentingan sebagai satu-satunya dasar dalam membangun relasi politik merupakan pandangan yang terlalu reduktif. Politik juga berkaitan dengan nilai, etika, legitimasi, kepercayaan publik, dan tanggung jawab terhadap kepentingan yang lebih luas.
Teman seperjuangan bukanlah mereka yang selalu menyatakan persetujuan. Teman seperjuangan adalah mereka yang memiliki keberanian untuk menyampaikan kritik, menjaga komitmen ketika situasi berubah, dan tetap berorientasi pada tujuan bersama ketika kepentingan pribadi tidak terpenuhi. Dengan demikian, loyalitas tidak identik dengan kepatuhan tanpa kritik, melainkan merupakan bentuk komitmen yang disertai integritas dan tanggung jawab.
Pada akhirnya, politik bukan sekadar persoalan memenangkan kontestasi atau memperoleh kekuasaan. Politik juga merupakan proses menentukan dengan siapa seseorang membangun perjuangan, nilai apa yang hendak dipertahankan, serta tujuan apa yang hendak diwujudkan. Kekuasaan tanpa prinsip dapat melahirkan pragmatisme, sementara perjuangan tanpa kemampuan membaca karakter dapat kehilangan arah.
Karena itu, dalam membangun perjalanan politik, jangan hanya mencari orang yang bersedia berjalan bersama ketika keadaan mudah. Carilah mereka yang memiliki kesamaan nilai, visi, dan komitmen; mereka yang mampu memberikan kritik ketika diperlukan; serta mereka yang tetap konsisten ketika perjalanan perjuangan menghadapi tekanan dan ketidakpastian.








