TAKALAR, UPDATESULSEL.ID – Warga di wilayah persawahan Cakura – Su’rulangi – Bulukunyi, khususnya di area BC 4 hingga BC 5 (Panggentungan dan Kampung Bugis), mengeluhkan minimnya pasokan air irigasi yang dinilai mengganggu aktivitas pertanian.
Sejumlah warga menilai persoalan ini terjadi akibat lemahnya koordinasi antara petugas pengairan dan pengurus Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A).
Mereka menyebut, tanggung jawab pengaturan aliran air seharusnya berada pada Petugas Pintu Air (PPA) yang digaji negara untuk mengontrol distribusi di sepanjang saluran induk.
Di sisi lain, seorang petugas pengairan menjelaskan bahwa pembagian tugas di lapangan sebenarnya sudah jelas. PPA hanya bertugas membuka pintu air, menyalurkan, dan menghitung debit air.
Sementara pengaturan distribusi di tingkat lahan menjadi tanggung jawab ketua P3A, termasuk melaporkan kebutuhan air ke petugas.
“Kalau lokasi BC 5, sebaiknya langsung berkoordinasi dengan petugas pintu air di bangunan BP 8. Setelah air dialirkan sesuai kebutuhan, pengaturannya di tingkat lahan adalah tugas P3A,”ujarnya.
Wilayah tersebut diketahui merupakan bagian dari daerah aliran irigasi yang bersumber dari Bendungan Pammukkulu, salah satu infrastruktur vital penunjang pertanian di Kabupaten Takalar.
Kondisi ini memunculkan harapan warga agar ada evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi air, termasuk memperjelas peran dan meningkatkan koordinasi antarpetugas, sehingga kebutuhan air petani dapat terpenuhi secara merata. (*)







