Chaidir Syam Tegaskan Literasi Bukan Sekadar Slogan, Tetapi Gerakan Bersama Mewujudkan Maros Berkualitas

MAROS, UPDATESULSEL – Bupati Maros, Chaidir Syam, terus mendorong penguatan gerakan literasi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan membangun masyarakat yang cerdas, kritis, serta adaptif terhadap perkembangan teknologi digital.

Di bawah kepemimpinannya, literasi tidak hanya diposisikan sebagai slogan, tetapi diarahkan menjadi gerakan sosial yang melibatkan pemerintah, komunitas, keluarga, satuan pendidikan, hingga berbagai elemen masyarakat. Upaya tersebut diharapkan mampu menumbuhkan budaya membaca dan menulis sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Kabupaten Maros.

Chaidir Syam mengungkapkan rasa harunya melihat gerakan literasi yang semakin berkembang dan mendapat dukungan dari berbagai pihak. Menurutnya, tantangan perkembangan teknologi digital harus dihadapi dengan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memahami, memilah, dan memanfaatkan informasi secara bijak.

“Satu-satunya cara menghadapi kemajuan teknologi digital adalah dengan meningkatkan kualitas literasi masyarakat. Literasi harus menjadi benteng utama dalam menghadapi dampak negatif dunia digital,” kata Chaidir Syam, Sabtu (10/10/2026), di Maros.

Ia menegaskan, penguatan literasi menjadi salah satu langkah strategis dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan dan pembangunan masyarakat. Karena itu, pemerintah daerah terus mendorong agar kegiatan literasi dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjangkau berbagai lapisan masyarakat.

“Kami berharap setiap warga Maros memiliki minat literasi yang tinggi, memahami apa yang dibaca, dan mampu menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Tokoh yang menerima penghargaan tertinggi Nugra Jasadharma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional RI itu juga mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat kolaborasi untuk mewujudkan Maros sebagai kabupaten literasi yang maju, cerdas, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Transformasi Perpustakaan, Dari Ruang Baca Menjadi Pusat Pemberdayaan

Salah satu langkah yang terus didorong Pemerintah Kabupaten Maros adalah pengembangan program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS). Program ini menempatkan perpustakaan bukan sekadar sebagai tempat membaca dan meminjam buku, melainkan juga sebagai ruang terbuka bagi masyarakat untuk belajar, berkarya, mengembangkan keterampilan, dan meningkatkan kesejahteraan.

Melalui pendekatan tersebut, perpustakaan diharapkan menjadi pusat kegiatan masyarakat yang inklusif dan mampu menjawab kebutuhan warga. Pengembangan layanan perpustakaan juga diarahkan untuk memperluas akses pengetahuan, memperkuat keterampilan, serta memberikan ruang partisipasi bagi kelompok masyarakat dengan kebutuhan yang beragam.

Kabupaten Maros turut mendorong pengembangan TPBIS sebagai salah satu pendekatan penguatan literasi di Sulawesi Selatan. Chaidir Syam menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, pengelola perpustakaan, komunitas literasi, dan masyarakat agar manfaat program dapat dirasakan secara lebih luas.

Baginya, keberhasilan gerakan literasi tidak hanya diukur dari banyaknya buku yang tersedia, tetapi juga dari kemampuan masyarakat memanfaatkan pengetahuan untuk meningkatkan kualitas hidup.Bunda Literasi Perkuat Budaya Membaca dari KeluargaPenguatan ekosistem literasi di Maros juga melibatkan Bunda Literasi Kabupaten Maros, Hj. Ulfiah Nur Yusuf Chaidir. Ia berperan aktif mendorong tumbuhnya budaya membaca dan menulis dengan menjadikan keluarga sebagai salah satu pintu utama pengembangan literasi.

Sejumlah program yang didorong di antaranya Gerakan Membacakan Buku Anak Sebelum Tidur, penguatan peran Bunda Literasi di tingkat kecamatan, desa, dan kelurahan, serta pengembangan klub baca dan pojok baca berbasis kelompok ibu-ibu PKK.

Selain itu, Bunda Literasi di berbagai wilayah juga didorong untuk menghasilkan karya tulis yang dapat diterbitkan menjadi buku. Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan minat baca, tetapi juga membangun tradisi menulis dan mendokumentasikan pengalaman serta potensi lokal masyarakat.

Pendekatan berbasis keluarga tersebut menjadi bagian penting dalam membangun budaya literasi sejak dini. Dengan keterlibatan orang tua dan lingkungan sekitar, kebiasaan membaca diharapkan tumbuh secara alami dan berkelanjutan.

Dari Diksi Ke Aksi : Gerakan Literasi Sepanjang 2026

Komitmen penguatan literasi di Maros juga diwujudkan melalui berbagai kegiatan nyata sepanjang Januari hingga Oktober 2026. Gerakan tersebut mencakup pengumpulan buku, pengembangan perpustakaan, penguatan literasi keluarga, hingga pelibatan aparatur sipil negara (ASN) dan komunitas.

Pada 17–18 Mei 2026, Gerakan Aksi Donasi Buku Masyarakat dan Gerakan Satu ASN Satu Buku berhasil menghimpun sekitar seribu buku. Gerakan ini menjadi salah satu upaya memperluas ketersediaan bahan bacaan sekaligus membangun partisipasi publik dalam pengembangan literasi.

Chaidir Syam juga mendorong hadirnya perpustakaan Masjid Belang-Belang melalui bantuan buku dan fasilitas perpustakaan. Dukungan turut diberikan kepada perpustakaan pondok pesantren di Maros untuk memperkuat akses bacaan dan meningkatkan budaya literasi di kalangan santri.

Pada sisi penguatan kelembagaan, ia mendampingi pengembangan peran Bunda Literasi hingga tingkat kecamatan, desa, dan kelurahan. Sosialisasi Gerakan Bunda Literasi Maros Beraksara Cerdas juga menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan gerakan tersebut.

Komitmen itu diperkuat melalui partisipasi Chaidir Syam sebagai pembicara dalam Seri Diskusi Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Pusat. Ia juga menerima penghargaan Bupati Penggerak Gerakan Satu ASN Satu Buku dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan di Gramedia Pettarani, Makassar.

Pada 14 September 2026, bertepatan dengan momentum Hari Kunjung Perpustakaan, Chaidir Syam mencanangkan Gerakan Membaca dan Menulis di Perpustakaan (Gema Pustaka) di Kabupaten Maros.

Sementara itu, karya bertajuk Menyalakan Cahaya Literasi dari Desa, yang ditulis oleh Bunda Literasi se-Kabupaten Maros, diluncurkan pada puncak peringatan HUT ke-54 Hari Kesatuan Gerak PKK di Grand Town Mall Maros. Penerbitan buku tersebut menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan gagasan dan pengalaman para penggerak literasi di tingkat lokal.

Gerakan Satu Masjid Satu Perpustakaan dan Literasi SantriPenguatan literasi di Maros juga menyasar lingkungan keagamaan. Kabupaten Maros telah mengembangkan Gerakan Satu Masjid Satu Perpustakaan sejak 2022, yang terus didorong keberlanjutannya hingga 2026.

Gerakan ini bertujuan mendekatkan akses bacaan kepada masyarakat melalui masjid, sekaligus menjadikan rumah ibadah sebagai ruang pembelajaran dan pengembangan pengetahuan di tengah kehidupan sosial.

Selain itu, Chaidir Syam turut mendorong penguatan literasi santri melalui Gerakan Santri Literasi. Inisiatif tersebut melibatkan kerja sama Fatayat NU Maros, Gerakan Pembudayaan Minat Baca Maros, dan IKA BKPRMI Maros dalam mendukung pengembangan perpustakaan pondok pesantren.

Keterlibatan berbagai organisasi tersebut memperlihatkan bahwa penguatan literasi membutuhkan kerja bersama lintas sektor. Pemerintah daerah berperan mendorong kebijakan dan fasilitasi, sedangkan komunitas, keluarga, organisasi keagamaan, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan gerakan.

Dengan berbagai program tersebut, Pemerintah Kabupaten Maros berupaya membangun ekosistem literasi yang tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Tantangan berikutnya adalah memastikan gerakan membaca dan menulis benar-benar tumbuh menjadi kebiasaan masyarakat, memperluas akses pengetahuan, serta memberikan dampak nyata terhadap kualitas pendidikan dan kesejahteraan warga.

Bagi Chaidir Syam, literasi merupakan investasi jangka panjang dalam pembangunan manusia. Melalui kolaborasi dan gerakan yang berkelanjutan, Maros diharapkan mampu memperkuat identitasnya sebagai daerah yang menjadikan pengetahuan sebagai fondasi kemajuan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *