LEBAK, UPDATESULSEL.ID- Program Jalan Poros Desa (JPD) yang digagas Bang Andra Soni mendapat apresiasi tinggi. Program ini dinilai menjadi urat nadi baru perputaran ekonomi desa di Banten.
“Jalan poros desa bagus, maka ekonomi rakyat desa pun meningkat bagus. Tanpa jalan yang bagus, maka hidup rakyat pun sulit untuk bahagia,” tegas King Badak.
Namun, di balik program emas tersebut, King Badak menyoroti persoalan serius yang merusak tujuan mulia itu. Fakta di lapangan, banyak jalan poros desa yang baru berusia satu bulan sudah retak dan hancur.
Menurut King Badak, penyebabnya bukan pada sistem atau teknis pelaksanaan, melainkan pada kualitas material beton yang abal-abal.
“Persoalan satu bulan sudah retak itu karena kualitas konstruksi betonisasi yang tak memiliki klasifikasi dan sertifikasi. Alias beton abal-abal,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, saat ini pemilik batching plant di wilayah Banten menjamur hingga ke pelosok daerah. Ironisnya, dari ratusan batching plant yang berdiri, hanya segelintir yang mengantongi sertifikasi mutu.
“Dari ratusan batching plant di Banten, hanya beberapa saja yang memiliki sertifikasi kualitas. Artinya, kebanyakan hasil produksi betonnya asal-asalan, asal jadi, sehingga tak bisa bertahan lama,” kata King Badak.
Lebih jauh, King Badak menegaskan bahwa buruknya kualitas beton ini bukan sekadar isu teknis, tapi sudah merugikan keuangan negara dan menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Seperti pada tahun anggaran 2024-2025, tercatat kerugian negara mencapai Rp 10 Miliar dari program jalan poros desa Bang Andra.
“Jangan dilihat dari perkara pengembalian uang ke negara, itu hal kecil. Tapi persoalan besarnya, karena adanya temuan itu berarti kualitas konstruksi betonisasi jalan itu jelek, tidak sesuai standar Kementerian, sehingga sebulan retak,” pungkasnya.(*)







