MAROS, UPDATESULSEL.ID – Tokoh literasi dan pendidikan, Bachtiar Adnan Kusuma, didaulat menjadi pembicara dalam kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) SMA Negeri 14 Maros, Sabtu (22/8/2026).
Dalam kegiatan yang diikuti sekitar 100 siswa-siswi tersebut, Bachtiar membawakan materi interaktif bertajuk “Manajemen Konflik di Satuan Pendidikan”. Kegiatan itu dimoderatori Usmal Tenrisenna, S.Pd., M.Pd., dengan Pembina OSIS Ramlah, S.Pd.
Dalam pemaparannya, Bachtiar menegaskan bahwa konflik merupakan sebuah keniscayaan yang tidak selalu dapat dihindari. Menurutnya, hal terpenting adalah bagaimana konflik dikelola agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
“Konflik adalah keniscayaan. Yang terpenting bagaimana kita mengelola konflik agar tidak meledak,” ujar Bachtiar.
Ketua GPMB Maros sekaligus Ketua Forum Nasional Penerima Penghargaan Tertinggi Nugra Jasadharma Pustaloka Perpustakaan Nasional itu mengajak para siswa dan guru membangun ekosistem sekolah yang literatif, damai, produktif, dan bermartabat.
“Jadikan SMA Negeri 14 Maros sebagai sekolah yang ramah dengan konflik,” katanya.
Bachtiar mengurai sejumlah faktor yang dapat memicu konflik di lingkungan satuan pendidikan. Di antaranya komunikasi yang tidak efektif dan efisien, keterbatasan sumber daya, perbedaan visi, serta faktor emosional.
Ia juga menjelaskan sejumlah dampak yang dapat muncul apabila konflik tidak ditangani dengan baik, mulai dari terciptanya iklim belajar yang tidak nyaman, menurunnya prestasi siswa, hingga terganggunya hubungan antara guru dan siswa.
Karena itu, Bachtiar menekankan pentingnya prinsip dasar dalam mengelola konflik. Di antaranya membangun komunikasi yang jujur dan terbuka, fokus pada masalah bukan menyerang pribadi, bersikap tegas namun tetap humanis, serta menyelesaikan persoalan sesuai aturan, kode etik guru, dan tata tertib sekolah.
Menurutnya, langkah terbaik dalam menghadapi konflik adalah melakukan pencegahan sejak dini.
“Lebih baik mencegah daripada mengobati. Upaya preventif, kuratif, dan rehabilitatif menjadi problem solving agar sekolah terhindar dari konflik,” tegasnya.
Dalam sesi tersebut, Bachtiar menawarkan sejumlah tahapan penyelesaian konflik, yakni identifikasi masalah, analisis masalah, menemukan akar atau sumbu masalah, problem solving, tindak lanjut, dan evaluasi.
Selain itu, ia menilai komunikasi yang efektif dan efisien, kepemimpinan kepala sekolah, serta budaya sekolah menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat dan kondusif.
Melalui materi tersebut, para peserta LDK diharapkan tidak hanya memahami konflik sebagai persoalan, tetapi juga mampu menjadi generasi muda yang memiliki keterampilan komunikasi, kepemimpinan, dan penyelesaian masalah secara bijak di lingkungan sekolah maupun masyarakat. (*)








