MAKASSAR, UPDATE SULSEL. ID-
Di tengah derasnya arus informasi digital, menjadi jurnalis bukan sekadar profesi. Ia adalah panggilan jiwa.
Sebuah tugas yang menuntut keberanian, ketekunan, kejujuran, dan pengorbanan.
Namun, tidak semua jurnalis menjalani profesinya dengan kemudahan. Ada mereka yang harus berjuang lebih keras hanya untuk sampai di lokasi peliputan.
Salah satunya adalah Ikbal Nakku, jurnalis media online Updatesulsel.id asal Kabupaten Jeneponto.
Ikbal hidup dengan keterbatasan fisik yang membuatnya tidak dapat mengendarai sepeda motor seperti kebanyakan wartawan lainnya.
Keterbatasan itu tentu menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika pekerjaan menuntut mobilitas tinggi dan kecepatan dalam menyajikan informasi kepada publik.
Namun, Ikbal memilih untuk tidak menyerah.
Setiap hari, ia mengandalkan kedua kakinya untuk melangkah dari satu kantor ke kantor lainnya. Bila jarak terlalu jauh, ia memilih naik bentor atau kendaraan umum.
Baginya, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya, melainkan motivasi untuk membuktikan bahwa semangat tidak pernah ditentukan oleh kondisi fisik.
Perjalanan jurnalistiknya pun tidak hanya terbatas di Jeneponto. Dengan dedikasi yang luar biasa, Ikbal rutin melakukan peliputan hingga ke Kabupaten Bantaeng, Takalar, Gowa, Kota Makassar, bahkan Maros.
Dari ruang rapat pemerintahan hingga lokasi kejadian, dari wawancara narasumber hingga menyusun berita yang akurat, semuanya dijalani dengan penuh tanggung jawab.
Setiap langkah yang ia tempuh adalah bukti bahwa seorang jurnalis sejati tidak diukur dari kendaraan yang dikendarainya, melainkan dari integritas, keberanian, dan komitmennya dalam menyampaikan fakta kepada masyarakat.
Di saat sebagian orang mengeluh karena perjalanan yang jauh atau cuaca yang tidak bersahabat, Ikbal Nakku justru mengajarkan bahwa tekad jauh lebih kuat daripada segala keterbatasan.
Ia membuktikan bahwa semangat profesionalisme mampu mengalahkan hambatan yang tampak mustahil.
Kisah Ikbal Nakku menjadi pengingat bagi seluruh insan pers bahwa profesi jurnalis bukan sekadar mencari berita, tetapi juga tentang dedikasi dalam menjalankan amanah publik.
Sebab, di balik setiap berita yang terbit, ada perjuangan yang sering kali tidak terlihat oleh pembaca.
Semoga kisah ini menjadi inspirasi, terutama bagi para jurnalis muda. Jangan pernah menyerah hanya karena keterbatasan.
Jangan pernah berhenti belajar hanya karena tantangan semakin berat. Sebab sejarah selalu mencatat mereka yang terus melangkah, bukan mereka yang berhenti di tengah jalan.
Karena pada akhirnya, keberhasilan bukan ditentukan oleh seberapa sempurna kondisi seseorang, melainkan oleh seberapa besar kemauan untuk terus bergerak maju.
Teruslah melangkah, karena setiap langkah yang ditempuh dengan keikhlasan akan menjadi jejak pengabdian bagi masyarakat. Dan setiap berita yang lahir dari perjuangan adalah warisan yang tak ternilai bagi dunia jurnalistik.(*)







