MAKASSAR, UPDATESULSEL.ID — Founder Zona Inovasi dan Gerakan Literasi Digital Indonesia (Zigid Indonesia), Muhammad Nur Rasul, menegaskan pentingnya penguatan literasi digital di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi. Menurutnya, kemampuan masyarakat dalam memilah dan memverifikasi informasi menjadi kunci untuk menghadapi berbagai bentuk disinformasi yang semakin canggih.
Muhammad Nur Rasul menyampaikan bahwa salah satu tantangan yang kini dihadapi masyarakat adalah munculnya teknologi Deepfake yang mampu menghasilkan foto, audio, maupun video manipulatif dengan tampilan yang sangat meyakinkan. Kondisi tersebut berpotensi menyesatkan publik apabila informasi yang beredar tidak diperiksa kebenarannya terlebih dahulu.
“Perkembangan teknologi harus diimbangi dengan peningkatan literasi digital. Masyarakat perlu membiasakan diri melakukan verifikasi informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya kepada orang lain,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa maraknya penyebaran hoaks dan konten manipulatif dapat berdampak pada rusaknya reputasi seseorang, menimbulkan keresahan sosial, hingga memengaruhi pengambilan keputusan masyarakat. Oleh karena itu, edukasi literasi digital perlu terus diperluas, terutama kepada generasi muda yang menjadi pengguna aktif media digital.
Melalui Zigid Indonesia, Muhammad Nur Rasul mengaku terus mendorong berbagai program edukasi dan kampanye literasi digital sebagai upaya membangun masyarakat yang lebih kritis, cerdas, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas, media, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam menciptakan ruang digital yang aman, sehat, dan produktif bagi seluruh warga Indonesia.
“Literasi digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Dengan kemampuan berpikir kritis dan memahami cara kerja informasi digital, masyarakat akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan di era teknologi yang terus berkembang,” tutupnya.







