Jenazah Warga Takalar Tertahan 12 Hari di Ceko, Keluarga Terkendala Biaya Rp 180 Juta

Screenshot 20260206 2146402

TAKALAR, UPDATE SULSEL. ID– Duka mendalam menyelimuti keluarga Suprianto (35), warga Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Pria yang diketahui merupakan mantan anggota Paskibraka Takalar tahun 2018 itu ditemukan meninggal dunia di Republik Ceko.

Hingga kini, jenazahnya masih tertahan di negara tersebut karena keterbatasan biaya pemulangan yang mencapai ratusan juta rupiah.

Suprianto dilaporkan meninggal dunia di sebuah apartemen milik rekannya pada Sabtu, 24 Januari, sekitar pukul 00.35 waktu setempat. Kabar duka baru diterima pihak keluarga sehari setelahnya melalui pemberitahuan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).

“Tanggal 24 Januari dinyatakan ditemukan jenazah, itu berdasarkan keterangan kepolisian Ceko,” ungkap tante almarhum, Milda, Kamis (5/2/2026).

Berdasarkan informasi yang diterima keluarga dari pihak KBRI, hasil autopsi menyebutkan Suprianto meninggal dunia akibat pembengkakan paru-paru. Saat ini jenazah telah diawetkan dan berada di rumah duka di Ceko sambil menunggu proses pemulangan.

Biaya Pemulangan Capai Ratusan Juta
Harapan keluarga untuk memulangkan Suprianto ke kampung halaman terkendala persoalan biaya. Estimasi pengiriman jenazah dari Ceko ke Jakarta saja disebut mencapai 5.807 Euro, belum termasuk biaya lanjutan dari Jakarta ke Makassar.

“Kalau dihitung keseluruhan bisa sekitar Rp 180 juta lebih,” jelas Milda.

Jumlah tersebut jelas di luar kemampuan keluarga. Mereka pun telah berupaya mencari jalan keluar dengan berkoordinasi bersama Pemerintah Kabupaten Takalar.

Pemda Takalar Bantu Koordinasi, Namun Terkendala Regulasi
Pihak keluarga telah menemui Sekretaris Daerah (Sekda) Takalar, Muhammad Hasbi, untuk meminta bantuan. Namun secara regulasi, pemerintah daerah disebut belum memiliki pos anggaran khusus untuk pemulangan jenazah WNI dari luar negeri.

“Memang secara aturan, anggaran seperti itu tidak tersedia di daerah,” kata Milda.

Meski demikian, Pemda Takalar disebut tetap berupaya membantu dengan menjalin komunikasi ke tingkat pusat, termasuk Kementerian Luar Negeri (Kemenlu). Sementara itu, keluarga juga mempertimbangkan langkah penggalangan dana sebagai upaya darurat.

“Kalau memang belum ada solusi, kemungkinan kami akan menggalang donasi. Bisa ke pemerintah, ke pejabat, atau pihak lain yang bersedia membantu,” tambahnya.

Keluarga juga sempat menerima informasi bahwa ada kemungkinan skema bantuan melalui BPJS, namun belum ada kepastian karena disebut menggunakan sistem penggantian biaya (reimburse), bukan pembayaran langsung.

Kini keluarga hanya berharap ada uluran tangan agar Suprianto bisa segera dipulangkan dan dimakamkan secara layak di tanah kelahirannya di Takalar.(*)