Penulis: Herman Sijaya
TAKALAR, UPDATE SULSEL. ID-
Di Takalar, kata kesehatan sedang berada di panggung utama. Program Universal Health Coverage (UHC) digaungkan, capaian dipresentasikan, dan penghargaan dijadikan simbol keberhasilan pelayanan publik. Dari mimbar ke mimbar, narasi yang dibangun jelas akses layanan kesehatan makin terbuka, masyarakat makin terlindungi.
Namun realitas di lapangan menghadirkan pemandangan yang berbeda.
Di Galesong, tumpukan sampah masih mudah ditemui di pinggir jalan poros, di dekat permukiman, bahkan tak jauh dari pusat aktivitas warga. Ia tidak bersuara, tidak ikut seremoni, tidak tampil di baliho. Tapi justru dari situlah ancaman kesehatan paling nyata berasal.
Di sinilah ironi itu terasa. Kesehatan dirayakan sebagai capaian administratif, sementara kesehatan lingkungan, fondasi paling dasar dari hidup sehat, belum sepenuhnya tertata.
Sebelum seseorang datang ke puskesmas, sebelum kartu jaminan digunakan, sebelum data kepesertaan diverifikasi, ada satu hal yang jauh lebih awal menentukan: lingkungan tempat ia bernapas, berjalan, dan membesarkan keluarga.
Jika ruang hidup masih dikepung sampah, maka upaya kuratif hanya akan sibuk memadamkan api tanpa pernah menyentuh sumber asapnya.
Sampah bukan sekadar urusan kebersihan visual. Ia adalah soal kebijakan, sistem, dan prioritas. Ketika sampah dibiarkan menumpuk, yang terlihat bukan hanya lemahnya kesadaran warga, tetapi juga pertanyaan tentang:
Apakah sistem pengelolaan berjalan konsisten?
Apakah anggaran benar-benar menyentuh kebutuhan paling mendasar?
Apakah layanan kebersihan hadir merata, hingga ke lorong-lorong desa?
Kesehatan sejatinya tidak lahir dari piagam penghargaan. Ia tumbuh dari selokan yang lancar, tempat pembuangan sementara yang berfungsi, armada pengangkut yang rutin beroperasi, serta pengawasan yang tidak berhenti di laporan, tetapi hadir di lapangan.
Galesong dan Takalar mungkin tidak kekurangan seremoni. Yang lebih dibutuhkan adalah keberanian menjadikan pengelolaan sampah sebagai prioritas utama, bukan sekadar catatan pinggir dalam agenda pembangunan.
Karena pada akhirnya, ukuran kesehatan masyarakat bukan hanya berapa banyak yang dijamin berobat, tetapi seberapa kecil risiko sakit yang dibiarkan tumbuh di lingkungan mereka sendiri.
Bagaimana menurut ta’, Pak Bupati Daeng Manye?
Masyarakat menunggu kesehatan yang bukan hanya dirayakan, tetapi benar-benar dirasakan mulai dari udara yang lebih bersih, jalan yang lebih tertata, hingga lingkungan yang layak untuk hidup sehat setiap hari.(*).







