Daerah  

Empat Bulan Pasokan Gas Terhenti, Pemilik Pangkalan di Takalar Minta Kejelasan

Takalar, UPDATESULSEL – Pasokan gas elpiji ke Pangkalan Arrahman di Jalan Terong, Lingkungan Panaikang, Kelurahan Pattallassang, Kabupaten Takalar, terhenti selama hampir empat bulan.

Pemilik pangkalan, Syamsuddin Nyampo, meminta kejelasan dari pihak agen terkait penghentian pasokan tersebut.

“Sudah empat bulan tidak pernah diantarkan gas dan tidak pernah ada pemberitahuan pasti apakah mau diputuskan atau bagaimana,” kata Syamsuddin, Minggu (11/10/2026).

Syamsuddin menjelaskan, masalah bermula ketika dirinya terlambat membayar sekitar satu minggu hingga menerima surat peringatan (SP) dari pihak agen. Meski tunggakan telah dilunasi, pasokan gas ke pangkalannya tak kunjung kembali.

Ia mengaku telah menjalankan usaha tersebut selama dua tahun. Saat awal membuka pangkalan, Syamsuddin mengklaim menyetor Rp23 juta kepada pihak agen untuk biaya administrasi, perizinan, serta pengadaan 50 tabung

Gas 3 kilogram dan tiga tabung pink 5,5 kilogram. Ia menyebut memiliki kuitansi pembayaran sebagai bukti.

Syamsuddin juga mengaku mendapat tekanan untuk mengalihkan kepemilikan pangkalan kepada pihak lain.

Menurutnya, seorang admin agen bernama Ibrahim meminta dirinya melakukan take over atau menjual pangkalan tersebut. Ketika menolak, ia mengaku mendapat ancaman bahwa pangkalannya akan berhenti beroperasi dengan sendirinya.

Agen Bantah Terima Setoran Rp23 JutaPemilik agen PT Dwi Maju Energi, Dwi Pratiwi, membantah tuduhan Syamsuddin, termasuk terkait setoran awal Rp23 juta.

“Saya sama sekali tidak tahu dana Rp23 juta itu disetor ke mana, karena saya sama sekali tidak menerima dana itu,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui telepon.

wi juga mempertanyakan keterlibatan media dalam persoalan tersebut. Ia menyebut penghentian pasokan berkaitan dengan keterlambatan pembayaran yang dilakukan Syamsuddin.

Menurut Dwi, Syamsuddin telah dua kali menerima surat peringatan karena terlambat membayar. Ia bahkan mengaku pernah membantu melunasi tunggakan pembayaran pangkalan tersebut.

Terkait jatah gas, Dwi membantah informasi mengenai alokasi 200 tabung per bulan. Ia menyatakan pangkalan tersebut hanya mendapat jatah 50 tabung per bulan.

Menunggu KejelasanHingga kini, kedua pihak masih menyampaikan keterangan berbeda terkait penghentian pasokan, dana awal pendirian pangkalan, dan dugaan permintaan pengalihan usaha.

Syamsuddin berharap pihak terkait memberikan kejelasan atas status pangkalannya. Sementara itu, kebenaran masing-masing klaim masih memerlukan penelusuran lebih lanjut agar persoalan tersebut dapat diselesaikan secara adil dan transparan. [*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *