Desa Bulu Cindea Bangkit: Dari Tertinggal ke Mandiri, Bukti Kekuatan Potensi Lokal

Avatar of I A N
IMG 20260408 WA0039 l Update Sulsel

PANGKEP, UPDATESULSEL.ID– Perjalanan Desa Bulu Cindea, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), menuju status desa mandiri menjadi kisah transformasi yang patut diperhitungkan.

Perubahan ini tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan strategi, pengawasan, serta perubahan pola pikir masyarakat.

Beberapa tahun silam, Bulu Cindea masih dihadapkan pada berbagai persoalan klasik desa tertinggal, mulai dari keterbatasan infrastruktur hingga minimnya akses ekonomi produktif. Potensi wilayah yang melimpah pun belum tergarap secara maksimal.

Titik balik terjadi ketika pemerintah desa mulai melakukan pemetaan potensi secara sistematis. Sektor pesisir, pertanian, serta usaha mikro masyarakat menjadi fokus utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Program pemberdayaan pun diarahkan lebih tepat sasaran, disertai dengan komitmen transparansi dalam pengelolaan dana desa.

Kepala Desa Bulu Cindea, Haji Made Ali, menegaskan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari keberanian untuk mengoptimalkan potensi sendiri. “Kunci perubahan ada pada pengelolaan potensi lokal yang tepat dan penggunaan anggaran yang transparan,” ujarnya.

Meski demikian, proses tersebut tidak berjalan tanpa tantangan. Di tahap awal, sejumlah warga sempat menunjukkan resistensi terhadap perubahan, khususnya terkait pola kerja dan distribusi program bantuan. Bahkan, isu ketimpangan akses sempat mencuat dan menjadi bahan diskusi di tengah masyarakat.

Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah desa bersama tim pendamping memperkuat pengawasan serta membuka ruang partisipasi warga. Forum musyawarah desa dihidupkan kembali sebagai wadah evaluasi terbuka, bukan sekadar formalitas.

Hasilnya kini mulai terlihat nyata. Infrastruktur dasar mengalami peningkatan, aktivitas ekonomi masyarakat tumbuh, dan tingkat kemandirian desa menunjukkan perkembangan signifikan. Status desa mandiri kategori tertinggi dalam pembangunan desa pun berhasil diraih.

Namun, capaian ini bukan tanpa catatan. Sejumlah pengamat mengingatkan pentingnya menjaga konsistensi dan keberlanjutan program. Status mandiri dinilai bukan garis akhir, melainkan awal dari tantangan baru dalam memastikan pemerataan manfaat pembangunan.

“Ke depan, yang harus dijaga adalah keberlanjutan. Jangan sampai status mandiri hanya administratif, tetapi lemah dalam implementasi,” tambah Made Ali.

Kini, Desa Bulu Cindea menjadi contoh nyata bahwa pengelolaan potensi lokal yang terarah, didukung transparansi dan partisipasi masyarakat, mampu mengubah wajah desa secara signifikan. Meski begitu, ujian sesungguhnya adalah menjaga capaian tersebut tetap kokoh di masa depan.(*)