Cuaca Pagi Jadi Penentu, Dua Helikopter Dikerahkan Evakuasi 5 Jenazah di Puncak Gunung Bulu Sarong

Screenshot 20260123 1427522

MAKASSAR, UPDATE SULSEL. ID— Faktor cuaca kembali menjadi penentu utama dalam operasi evakuasi korban kecelakaan pesawat ATR di kawasan Gunung Bulu Sarong. Pada Jumat pagi, Satuan Tugas Udara Operasi SAR memaksimalkan evakuasi melalui jalur udara dengan memanfaatkan jendela cuaca terbaik yang diprediksi berlangsung antara pukul 08.00 hingga 11.00 WITA.

Komandan unsur udara menjelaskan, seluruh kru penerbangan telah mengikuti briefing sejak pukul 06.30 WITA bersama tim meteorologi dan geofisika. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada rentang waktu tersebut kondisi atmosfer relatif stabil, dengan pertumbuhan awan masih rendah dan didominasi awan menyebar (scatter cloud).

“Puncak Gunung Bulu Sarong berada di ketinggian sekitar 4.200 feet. Pada jam 08.00 sampai 11.00 WITA, helikopter masih memungkinkan bermanuver aman hingga ketinggian 5.000 feet,” ungkapnya kepada awak media.

Pada operasi hari ini, tim SAR menargetkan evakuasi lima jenazah yang berada di area puncak gunung. Sejak dini hari, tepatnya pukul 05.00 WITA, tim darat telah bergerak membawa jenazah menuju titik penjemputan di puncak, sehingga tidak perlu diturunkan kembali ke pos bawah yang membutuhkan waktu tempuh hingga tiga jam.

Untuk mempercepat proses evakuasi, dua unit helikopter dikerahkan, masing-masing milik Basarnas dan TNI Angkatan Udara. Evakuasi dilakukan secara bergantian. Setiap helikopter akan langsung mengangkut satu hingga dua jenazah yang telah tiba di puncak, tanpa menunggu seluruh jenazah terkumpul.

“Begitu jenazah sampai di puncak, langsung dievakuasi. Helikopter lainnya tetap siaga untuk penjemputan berikutnya agar waktu cuaca baik tidak terbuang,” jelasnya.

Selain helikopter, pesawat Casa/Caravan juga diterbangkan lebih awal untuk melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah ini dilakukan guna menahan pertumbuhan awan di sekitar puncak gunung dan lokasi penjemputan. Namun, keterbatasan bahan baku menjadi tantangan tersendiri.

“OMC diperkirakan bisa dilakukan maksimal lima hingga enam sortie hari ini, tergantung efektivitas dan ketersediaan bahan,” tambahnya.

Satgas menegaskan, target utama adalah menuntaskan seluruh proses evakuasi sebelum pukul 11.00 WITA, mengingat cuaca di wilayah pegunungan tersebut sangat cepat berubah. Dalam beberapa hari terakhir, kondisi ekstrem bahkan dapat terjadi hanya dalam waktu satu jam.

Sebagai evaluasi, upaya evakuasi sebelumnya terpaksa dibatalkan akibat jarak pandang yang sangat terbatas, hanya sekitar 15 meter, disertai pertumbuhan awan tebal di sisi tebing yang membahayakan keselamatan penerbangan.

“Kemarin kondisi sangat tidak memungkinkan. Awan tumbuh cepat dan tebal, sehingga dari sisi keselamatan penerbangan helikopter tidak bisa dipaksakan,” pungkasnya.

Operasi evakuasi hari ini diharapkan menjadi momen krusial dalam menyelesaikan seluruh proses pemindahan korban, dengan tetap mengedepankan keselamatan personel SAR dan awak udara.(Wen)