Belajar Ketulusan dari Seorang Bocah Kecil di Teras Masjid

Screenshot 20260127 0854272

UPDATE SULSEL. ID- Siang itu, selepas Salat Jumat, saya memilih duduk sejenak di teras masjid dalam sebuah kompleks perumahan. Jamaah sudah bubar. Suasana yang tadinya ramai, perlahan berubah sunyi. Orang-orang kembali pada urusan masing-masing.

Di sudut teras, seorang nenek tua menawarkan kue tradisional dagangannya. Suaranya pelan, langkahnya tampak berat.
“Satu plastik lima ribu, Nak…” katanya pada siapa saja yang lewat.

Saya sebenarnya tidak berniat membeli, tapi melihat wajah lelahnya, hati saya tergerak. Saya beli satu plastik, lalu duduk tak jauh darinya. Dagangannya masih banyak tersisa.

Tak lama, seorang anak laki-laki kecil mendekat. Seragam sekolahnya masih rapi. Mungkin kelas satu atau dua SD.

“Berapa harganya, Nek?” tanyanya polos.
“Lima ribu satu plastik, Nak.”

Anak itu mengeluarkan uang lima puluh ribu dari sakunya.
“Saya beli sepuluh ya, Nek. Ini uangnya… tapi kuenya buat Nenek saja, biar bisa dijual lagi.”

Saya terdiam.

Mata si nenek langsung berkaca-kaca.
“Ya Allah… terima kasih, Nak. Alhamdulillah… doa saya terkabul. Cucu saya sakit, saya mau beli obat…”

Nenek itu pun bergegas pergi.

Saya spontan memanggil anak tadi.

“Siapa namamu?”
“Radit, Pak. Kelas dua.”

“Uang jajanmu lima puluh ribu sehari?”

Radit tersenyum kecil.
“Oh tidak, Pak. Saya cuma dikasih sepuluh ribu sehari. Tapi saya tidak pernah jajan, karena bawa bekal dari rumah.”

Saya makin tertegun.
“Jadi itu tabunganmu?”

“Iya, Pak. Dari Senin saya kumpulkan. Setiap Jumat saya sedekah. Lalu saya berdoa supaya pahalanya untuk ibu saya yang sudah meninggal. Saya pernah dengar ceramah, ada ibu yang diampuni Allah karena sedekah anaknya sepotong roti.”

Suara bocah itu begitu jernih. Tanpa beban. Tanpa pamrih.

“Sejak kapan ibumu meninggal, Nak?”
“Waktu saya masih TK, Pak.”

Dada saya terasa sesak. Air mata jatuh tanpa izin.

Saya coba mengganti uangnya. “Ini ambil lagi ya, Nak.”

Radit menggeleng sopan.
“Terima kasih, Pak. Tapi Bapak saja yang pakai. Saya masih kecil, belum punya tanggungan. Bapak pasti punya keluarga.”

Anak itu menyalami tangan saya, lalu pergi.
Saya hanya bisa berbisik, “Semoga Allah menjagamu, Nak…”

Beberapa langkah dari situ, saya melihat si nenek masuk ke apotek. Saya ikut masuk. Obat yang dibelinya seharga empat puluh ribu. Saya membayarnya diam-diam, dan meminta kembaliannya diberikan ke nenek itu.

Belum sempat ia mengucap terima kasih, saya sudah melangkah pergi.

Di perjalanan, hati saya terus berbicara:
Hari itu, saya merasa bukan saya yang menolong. Justru saya yang ditolong—oleh hati bersih seorang anak kecil.

Kebaikan tidak menunggu kaya.
Tidak menunggu dewasa.
Tidak menunggu sempurna.

Ia lahir dari hati yang tulus.

Semoga setiap kebaikan yang kita lakukan, sekecil apa pun, menjadi cahaya untuk orang tua kita, keluarga kita, dan jalan keselamatan kita kelak.(Awaludin)