News  

Guru di Takalar Keluhkan Gatal Usai Cicipi Menu MBG

TAKALAR, UPDATESULSEL.ID – Puluhan siswa UPT SD Negeri 58 Lengkese, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, nyaris mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kemudian ditahan pihak sekolah setelah sejumlah guru mengeluhkan sensasi gatal pada bagian mulut.

Peristiwa itu terjadi pada Senin (21/9/2026), saat paket makanan MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Topejawa tiba di sekolah. Sebelum dibagikan kepada siswa, sejumlah guru terlebih dahulu melakukan pencicipan sebagai bagian dari pemeriksaan awal makanan.

Kepala UPT SD Negeri 58 Lengkese, Supriadi, mengatakan empat guru yang mencicipi menu tersebut kemudian merasakan gatal pada bagian mulut. Selain itu, mereka juga menilai cita rasa makanan berbeda dari biasanya.

“Setelah dicicipi, ada empat guru yang mengalami gatal pada bagian mulut. Selain itu, rasanya juga dirasakan berbeda. Karena kami khawatir terjadi sesuatu terhadap anak-anak, makanan tersebut tidak kami bagikan dan kemudian ditarik kembali,” ujar Supriadi, Selasa (22/9/2026).

Supriadi menegaskan, tidak ada siswa yang mengalami keracunan karena makanan tersebut belum sempat dikonsumsi. Di sekolah tersebut terdapat 86 siswa penerima manfaat MBG dan 12 tenaga kependidikan.

Menurutnya, langkah penahanan makanan dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian untuk mencegah munculnya gangguan kesehatan pada siswa.

“Kami berharap ke depan penyajian menu MBG lebih diperhatikan. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang dan menimbulkan kekhawatiran di sekolah,” katanya.

Dinas Kesehatan Kabupaten Takalar juga disebut telah mendatangi sekolah untuk melakukan klarifikasi terkait kejadian tersebut.

Kepala SPPG Topejawa, Muhammad Alwi, S.Pi., memberikan klarifikasi mengenai penarikan paket makanan MBG tersebut. Ia membantah anggapan bahwa makanan dikembalikan atau ditolak oleh pihak sekolah.

Menurut Alwi, penarikan ompreng dilakukan secara proaktif oleh staf SPPG setelah menerima masukan dari guru yang melakukan pengujian sampel makanan secara organoleptik.

“Menu makanan bukan dikembalikan atau ditolak sekolah. Staf kami sendiri yang berinisiatif menarik ompreng tersebut setelah menerima masukan saat pengujian sampel organoleptik oleh guru PIC,” jelas Alwi dalam keterangan tertulisnya.

Mengenai keluhan empat guru, Alwi menyebut sensasi yang dirasakan berupa gatal ringan dan bersifat lokal pada rongga mulut serta lidah. Ia menduga kondisi tersebut dapat berkaitan dengan sensitivitas individu terhadap bahan makanan tertentu.

Namun, dugaan tersebut belum dapat menjadi kesimpulan mengenai penyebab keluhan. Pihak SPPG menyatakan tidak ada siswa yang terpapar maupun mengalami gangguan kesehatan akibat menu tersebut.

Data SPPG Topejawa menyebutkan layanan MBG pada hari itu mencakup 1.761 penerima manfaat di 11 sekolah dan 11 posyandu. Sebanyak 1.757 penerima manfaat atau sekitar 99,8 persen disebut mengonsumsi menu yang sama tanpa laporan keluhan.

Untuk memastikan kondisi makanan secara ilmiah, sampel menu telah disiapkan untuk menjalani pemeriksaan laboratorium di Labkesda Kabupaten Takalar pada Selasa (22/9/2026).

Sementara itu, warga Takalar, Daeng Jarre, meminta pengelolaan MBG di SPPG Topejawa dievaluasi menyusul adanya keluhan dari sejumlah guru di SDN 58 Lengkese.

Ia menilai proses pengolahan makanan, termasuk waktu memasak hingga distribusi ke sekolah, perlu diperiksa untuk memastikan seluruh tahapan memenuhi standar keamanan pangan.

“Kami berharap Kanwil BGN Sulsel dan BGN Pusat turun langsung melakukan pemeriksaan di SPPG Topejawa. Kalau diperlukan, dilakukan evaluasi dan langkah pengamanan sementara agar kejadian serupa tidak terulang,” ujar Daeng Jarre, Selasa (22/9/2026).

Hingga berita ini ditulis, hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan tersebut belum diketahui. Karena itu, penyebab pasti munculnya keluhan gatal pada empat guru masih menunggu hasil pemeriksaan serta klarifikasi dari instansi terkait.

Kejadian ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG perlu menjadi perhatian bersama, mulai dari proses pengolahan, pemeriksaan sampel, pengemasan, hingga distribusi makanan ke sekolah.(*)