BAK Sebut Adi Akbar Politisi Muda Berhati Nurani, Pesannya : “Belajar Tak Pernah Pensiun”

MAKASSAR, UPDATESULSEL.ID — Belajar tak mengenal usia, jabatan, apalagi kata pensiun. Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Tahun 2026 yang digelar Anggota DPRD Kota Makassar dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Adi Akbar, S.Pd., M.M., di Karebosi Condotel Hotel Makassar, Selasa (1/9/2026).

Kegiatan tersebut diikuti ratusan peserta. Salah satu pembahasan yang mencuri perhatian ialah pentingnya pengetahuan dan budaya belajar dalam mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Tokoh Literasi Nasional dan Perbukuan, Bachtiar Adnan Kusuma (BAK), yang hadir sebagai pembicara, menegaskan bahwa pengetahuan memiliki peran penting dalam membuka peluang kehidupan.

“Siapa yang suka belajar, siapa yang menguasai ilmu pengetahuan, maka dia tidak akan menjadi orang yang miskin. Knowledge Driven of Economy,” ujar BAK.

Menurutnya, belajar tidak boleh dipahami sebatas aktivitas di ruang kelas. Belajar merupakan proses sepanjang hayat yang memungkinkan seseorang terus beradaptasi dengan perubahan zaman.

Pengetahuan Jadi Kekuatan Untuk Mengubah Kehidupan

BAK juga mengaitkan pentingnya pendidikan dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Pada masa kolonial, akses masyarakat terhadap buku, perpustakaan, dan pengetahuan sangat terbatas. Dalam situasi tersebut, pengetahuan bukan hanya menjadi sarana memahami dunia, tetapi juga kekuatan untuk melawan ketidakadilan.

Ia kemudian mengangkat kisah Presiden Soekarno saat menjalani masa tahanan di Sukamiskin, Bandung.

Meski berada di balik jeruji, Soekarno tidak berhenti membaca, berpikir, dan menulis. Dari proses intelektual tersebut lahir pembelaan politik yang kemudian dikenal sebagai “Indonesia Menggugat.” Kisah tersebut menjadi gambaran bahwa perjuangan tidak selalu dilakukan melalui kekuatan fisik. Pengetahuan, buku, kemampuan membaca dan berpikir kritis juga dapat menjadi kekuatan dalam menghadapi berbagai persoalan.

Di Era Digital, Tantangannya Bukan Lagi Sekedar Akses Buku

Menurut BAK, tantangan pendidikan saat ini telah mengalami perubahan.Jika dahulu persoalannya adalah keterbatasan akses terhadap buku dan informasi, kini masyarakat justru hidup di tengah banjir informasi.

Buku dapat diakses secara fisik maupun digital. Pengetahuan tersedia melalui berbagai platform. Namun, kemudahan tersebut belum tentu membuat seseorang memiliki kemauan untuk terus belajar.

“Tidak ada orang miskin sebenarnya kalau kita semua mau belajar. Tetapi dasarnya memang kita malas,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut, kata BAK, lebih tepat dimaknai sebagai dorongan agar masyarakat membangun budaya belajar dan meningkatkan kapasitas diri, bukan sebagai penyangkalan terhadap kompleksitas persoalan kemiskinan yang juga dipengaruhi faktor ekonomi, sosial dan struktural.

BAK Bongkar Kunci Keluar dari Kemiskinan: “Siapa yang Menguasai Ilmu Tak Akan Miskin”

BAK Puji Adi Akbar ; Politisi Muda Yang Haus Belajar

Di tengah pemaparannya, BAK turut memberikan perhatian khusus kepada sosok Adi Akbar.

Menurut BAK, Adi Akbar merupakan figur anak muda yang memiliki semangat belajar dan kepedulian terhadap generasi muda di lingkungannya.

“Adi Akbar figur anak muda dan politisi berhati nurani yang selalu mau memajukan anak-anak muda di kampungnya, Parangtambung, Makassar,” kata BAK.

Pernyataan tersebut disampaikan BAK didampingi moderator Suciatmi Ramadhani dan pembicara dari Dinas Pendidikan Kota Makassar, Fausan, M.Hum.

Bagi BAK, sosok seperti Adi Akbar menjadi contoh bahwa menjadi seorang legislator tidak berarti berhenti belajar. Justru, posisi sebagai wakil rakyat menuntut seseorang untuk terus memperluas wawasan, memahami persoalan masyarakat dan meningkatkan kapasitas diri.

Sekolah Boleh Selesai, Belajar Jangan Berhenti

BAK kemudian menutup pemaparannya dengan pesan tentang pentingnya pembelajaran sepanjang hayat.

“Sekolah mungkin memiliki halaman terakhir. Buku mungkin memiliki halaman penutup. Sebuah pendidikan formal mungkin memiliki ijazah sebagai tanda selesai. Tetapi belajar tidak pernah benar-benar selesai,” tegasnya.

Sebab, selama seseorang masih mau membaca, bertanya, mendengar, berpikir dan memperbaiki diri, maka proses pendidikan sejatinya masih terus berlangsung.

Belajar boleh dimulai dari sekolah, tetapi tidak pernah berakhir ketika seseorang meninggalkan sekolah.

Pesan tersebut menjadi salah satu refleksi penting dalam kegiatan pengawasan pemerintahan daerah tersebut: bahwa pembangunan manusia tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas, tetapi juga membutuhkan masyarakat yang mau terus belajar dan berkembang. (*)