BARRU, UPDATESULSEL.ID – Tokoh literasi dan aktivis perbukuan nasional, Bachtiar Adnan Kusuma, mengingatkan kembali pentingnya keteladanan literasi Bung Karno dalam membangun generasi yang memiliki mimpi besar, kecakapan literasi, tekad kuat, serta kontribusi nyata bagi bangsa.
Hal tersebut disampaikan Bachtiar Adnan Kusuma saat menghadiri Launching Tanah Harapan Mangkoso di Burancie, Kabupaten Barru, Sabtu malam, 22 Agustus 2026.
Kegiatan yang diprakarsai Founder Tanah Harapan Mangkoso, Rusman, tersebut turut menghadirkan aktivis lingkungan Iwan Dento sebagai pembicara. Kegiatan dihadiri aktivis mahasiswa, pegiat lingkungan, akademisi, pegiat literasi, mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar), serta mahasiswa Universitas Habibie.
Dalam prolognya, Bachtiar memberikan apresiasi kepada Rusman yang dinilai memiliki kepedulian dan inisiatif dalam memadukan gerakan lingkungan dengan literasi.Menurutnya, perpaduan tersebut lebih tepat disebut sebagai ekoliterasi, yakni upaya membangun kesadaran masyarakat terhadap lingkungan melalui pendekatan literasi.
“Rata rata tokoh-tokoh pemimpin nasional dimulai dari kebiasaan dan kecintaannya membaca dan menulis. Sebut misalnya Presiden Soekarno yang sejak kecil telah menganut tetralogi literasi,” ujar Bachtiar.
Empat Kekuatan Literasi Bung Karno
Bachtiar kemudian menjelaskan empat kekuatan yang menurutnya menjadi bagian penting dari perjalanan Bung Karno.
Pertama, mimpi besar. Sejak lahir pada 1901, Soekarno telah memiliki cita-cita besar untuk membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan.
“Mimpi besar Soekarno memerdekakan bangsa Indonesia inilah menjadi asa besar yang terus-menerus diperjuangkan melalui orasi dan penanya,” kata Ketua GPMB Maros tersebut.
Kedua, kecakapan literasi yang tinggi. Menurut Bachtiar, Bung Karno merupakan sosok yang memiliki kecintaan luar biasa terhadap buku dan pengetahuan.Hal itu, kata dia, salah satunya tercermin dalam pledoi Indonesia Menggugat yang disampaikan Soekarno di pengadilan kolonial Belanda. Pledoi tersebut disebut memiliki 143 halaman, mengutip 60 judul buku, memuat 118 catatan kaki, serta menggunakan tujuh bahasa.
Ketiga, determinasi atau tekad yang kuat. Semangat perjuangan Bung Karno tercermin dalam prinsip untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Keempat, kontribusi nyata bagi bangsa. Bachtiar menilai perjuangan dan gagasan Bung Karno memberikan kontribusi besar terhadap perjalanan bangsa Indonesia.“Inilah tetralogi kebesaran Bung Karno yang terus membumi dan menjadi aset bangsa Indonesia,” tegasnya.
Dari Literasi Menuju Ekoliterasi
Bachtiar juga menyebut sejumlah tokoh bangsa lainnya yang memiliki tradisi literasi kuat, seperti Bung Hatta, Tan Malaka, dan Buya Hamka.
Menurutnya, ketokohan mereka tidak hanya penting dalam konteks kecintaan terhadap buku dan pengetahuan, tetapi juga dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap kehidupan sosial dan lingkungan.
Karena itu, kehadiran aktivis lingkungan seperti Iwan Dento dan Rusman dinilai menjadi semakin penting. Keduanya dinilai turut memberikan pemahaman mengenai lingkungan serta hubungan manusia dengan alam.
“Dalam konteks perubahan iklim dan degradasi lingkungan yang semakin nyata, kesadaran tentang lingkungan menjadi semakin penting,” ujarnya.
Bachtiar menegaskan, tantangan di era modern bukan hanya meningkatkan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga membangun kesadaran kolosal tentang lingkungan.
Pendekatan literasi dan pemahaman yang baik mengenai ekologi, kata dia, dapat menjadi salah satu kunci untuk melahirkan solusi yang berkelanjutan.
“Kami berharap dengan gagasan Rusman mendirikan Rumah di Tanah Harapan bisa menjadi pelecut awal bangkitnya literasi berbasis hijau dan literasi santri di Bumi Mangkoso, Barru. Selamat,” pungkas Bachtiar.








