Diduga Jual Beli Seragam di SMAN 3 Takalar, Keterangan Orang Tua dan Sekolah Berbeda

Avatar of Admin UPDATESULSEL.ID
UPDATESULSEL.ID TERKINI 20260821 094140 0000 l Update Sulsel

TAKALAR, UPDATESULSEL.ID – Polemik pengadaan seragam siswa baru di SMA Negeri 3 Kabupaten Takalar bergulir. Seorang orang tua siswa sebelumnya mengaku diminta menyiapkan Rp320 ribu untuk dua jenis pakaian, yakni seragam olahraga Rp190 ribu dan seragam batik Rp130 ribu.

Orang tua siswa tersebut mengatakan rencana pengadaan seragam telah disampaikan dalam pertemuan sebelum siswa baru mulai mengikuti kegiatan belajar. Dalam pertemuan itu, menurut dia, Ketua Komite sekolah menyampaikan adanya pengadaan dua jenis seragam.

Pasang Iklan Update Sulsel

“Sebelum anak saya mulai masuk, sekolah melakukan rapat dengan mengundang semua orang tua siswa dan disampaikan langsung oleh ketua komite bahwa ada baju seragam yang mau dibeli bagi para siswa baru yang masuk,” ujarnya.

Namun, ia mengaku harga seragam tidak disebutkan dalam rapat tersebut. Menurut dia, Ketua Komite hanya menyampaikan bahwa pakaian dipesan dari wilayah Jawa dan membutuhkan waktu untuk tiba.

“Ketua Komite tidak menyebut harga pada saat rapat karena takutnya nanti ada yang menilai itu berbau korupsi atau semacamnya. Yang jelas, ia hanya menyampaikan kalau baju itu dari Jawa dan mungkin agak lama untuk tiba,” katanya.

Informasi harga, kata dia, baru diketahui setelah anaknya meminta uang untuk membayar seragam.

“Kemarin anak saya minta uang untuk membayar baju seragam. Untuk baju olahraga Rp190 ribu dan untuk baju batik Rp130 ribu,” ujarnya.

Jika kedua jenis pakaian tersebut dibeli, total biaya yang harus disiapkan orang tua mencapai Rp320 ribu per siswa.

Keterangan orang tua siswa itu kemudian dikonfirmasi kepada Kepala SMA Negeri 3 Kabupaten Takalar melalui WhatsApp, Jum’at malam (20/08/2026).

Pihak sekolah membantah mengetahui adanya pengadaan seragam tersebut. Kepala sekolah menyatakan rapat orang tua siswa yang digelar sebelumnya tidak membahas pengadaan seragam olahraga maupun batik.

“Pada rapat orang tua, tidak ada menyinggung pengadaan seragam olahraga dan seragam batik sekolah. Hanya membahas program sekolah, tata tertib dan penguatan kolaborasi satuan pendidikan dengan orang tua murid,” demikian jawaban pihak sekolah.

Sekolah juga menyatakan tidak memiliki peran dalam pengadaan pakaian tersebut.

“Tidak ada peran pihak sekolah.”

Bahkan, pihak sekolah mengaku tidak mengetahui harga maupun asal toko yang menyediakan seragam.

“Pihak sekolah sama sekali tidak mengetahuinya, jangankan harganya, toko tempat memperolehnya saja pihak sekolah tidak tahu.”

Ketika ditanya mengenai pihak yang menentukan harga seragam, sekolah menjawab, “Wallahu a’lam.”

Pihak sekolah kembali menegaskan bahwa mereka tidak mengetahui proses pengadaan tersebut. Sekolah juga menyatakan tidak memiliki kerja sama dengan pihak mana pun terkait pengadaan seragam.

“Tidak ada kerja sama dalam bentuk apa pun,” tegas pihak sekolah.

Dengan adanya bantahan tersebut, polemik pengadaan seragam kini menyisakan pertanyaan mengenai siapa yang menginisiasi pembelian, siapa yang menentukan harga Rp190 ribu dan Rp130 ribu, serta bagaimana mekanisme pembayaran kepada orang tua siswa.

Keterangan orang tua siswa dan pihak sekolah menunjukkan adanya perbedaan informasi mengenai apakah pengadaan seragam pernah dibahas dalam rapat orang tua. Karena itu, klarifikasi dari pihak Komite sekolah menjadi penting untuk menjelaskan duduk perkara secara utuh.

Update Sulsel masih membuka ruang bagi Ketua Komite maupun pihak terkait lainnya untuk memberikan klarifikasi dan hak jawab atas informasi tersebut.