Opini  

Ramadan dan Momentum Kebangkitan Nurani Sosial di Sulawesi Selatan

IMG 20260217 WA0071

Oleh: Redaksi UpdateSulsel.id

MAKASSAR, UPDATESULSEL.ID-
Bulan suci Ramadan kembali menyapa umat Muslim dengan segala keistimewaannya. Ia bukan sekadar ritual tahunan yang datang dan pergi, melainkan momentum spiritual yang selalu menghadirkan ruang refleksi, perenungan, dan pembaruan diri. Di tengah dinamika sosial, ekonomi, dan politik yang terus bergerak cepat, Ramadan menjadi oase yang menenangkan sekaligus menguatkan nilai-nilai kemanusiaan.

Di Sulawesi Selatan, Ramadan memiliki warna tersendiri. Tradisi mappacci, buka puasa bersama, hingga semarak pasar takjil di berbagai daerah seperti Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, dan Maros menjadi cerminan kuatnya nilai kebersamaan. Namun lebih dari itu, Ramadan sejatinya adalah panggilan untuk menghidupkan kembali nurani sosial kita.

Puasa mengajarkan empati. Ketika kita menahan lapar dan dahaga, sesungguhnya kita sedang diajak merasakan apa yang saban hari dirasakan oleh saudara-saudara kita yang hidup dalam keterbatasan. Di sinilah esensi Ramadan: membangun kesadaran kolektif bahwa kehidupan bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi tentang berbagi dan peduli.

Di tengah tantangan ekonomi yang dirasakan sebagian masyarakat, Ramadan seharusnya menjadi penggerak solidaritas. Pemerintah daerah, pelaku usaha, komunitas, hingga individu memiliki peran strategis untuk memastikan semangat berbagi benar-benar dirasakan oleh mereka yang membutuhkan. Gerakan sedekah, pembagian sembako, santunan anak yatim, hingga pemberdayaan UMKM lokal dapat menjadi wujud nyata kepedulian.

Ramadan juga menjadi momentum memperkuat etika sosial. Media sosial kerap menjadi ruang perdebatan tanpa batas, bahkan tak jarang memicu perpecahan. Padahal, Ramadan mengajarkan pengendalian diri—bukan hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari amarah, prasangka, dan ujaran yang melukai. Menahan jempol di dunia digital sama pentingnya dengan menahan lapar di dunia nyata.

Bagi aparatur pemerintah dan pemangku kebijakan, Ramadan adalah saat yang tepat untuk menunjukkan kepemimpinan yang empatik. Kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil, pengawasan harga kebutuhan pokok, serta pelayanan publik yang tetap optimal selama bulan puasa menjadi cerminan komitmen moral kepada masyarakat.

Sementara itu, bagi generasi muda, Ramadan dapat menjadi ruang pembentukan karakter. Masjid dan musala yang kembali ramai oleh tadarus dan kajian hendaknya tidak hanya menjadi simbol semarak ibadah, tetapi juga tempat tumbuhnya gagasan-gagasan positif untuk masa depan daerah.

Ramadan bukan sekadar tentang meningkatkan kuantitas ibadah, melainkan kualitas akhlak. Jika setelah Ramadan kita menjadi pribadi yang lebih jujur, lebih peduli, dan lebih bertanggung jawab, maka di situlah kemenangan sejati.

Sebagai media yang lahir dan tumbuh di Sulawesi Selatan, UpdateSulsel.id mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat persaudaraan, merawat persatuan, dan menebar kebaikan tanpa sekat. Sebab pada akhirnya, Ramadan bukan hanya tentang satu bulan penuh ibadah, tetapi tentang bagaimana nilai-nilainya hidup sepanjang tahun.

Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga Ramadan tahun ini menjadi cahaya yang menerangi langkah kita bersama.(*)