Mangrove Tanakeke Dibabat, Ombak Mulai Masuk Kampung Warga Labbo Tallua

IMG 20260131 WA0081

TAKALAR, UPDATE SULSEL. ID-Kerusakan hutan mangrove di Dusun Labbo Tallua, Desa Minasa Baji, Kepulauan Tanakeke, Kabupaten Takalar, kian mengkhawatirkan. Vegetasi bakau yang selama ini menjadi benteng alami pesisir terus berkurang akibat penebangan, dan dampaknya kini mulai dirasakan langsung oleh warga: ombak laut sudah menembus area permukiman.

Pantauan di lokasi menunjukkan aktivitas yang diduga berkaitan dengan pemanfaatan kayu mangrove masih berlangsung. Sebuah kapal jenis jolloro terlihat memuat arang yang disebut-sebut berasal dari kayu bakau, diduga untuk dikirim ke wilayah Rajawali, Makassar.

Bagi masyarakat setempat, kondisi ini bukan lagi sekadar isu lingkungan, tetapi sudah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan kampung mereka. Abrasi pantai disebut semakin parah seiring menipisnya hutan mangrove.

Seorang tokoh masyarakat yang enggan disebutkan namanya menyampaikan keresahan warganya. Ia berharap persoalan ini mendapat perhatian luas agar ada tindakan tegas.

“Tolong ini diangkat, karena pelaku seperti tidak peduli lagi dengan kampung kami. Ombak sekarang sudah dekat sekali dengan rumah-rumah. Kami juga berencana melaporkan ke Polres Takalar,” ujarnya sabtu (31/01/2026).

Menurut informasi yang beredar di masyarakat, ada beberapa oknum warga yang diduga terlibat dalam aktivitas penebangan mangrove serta perdagangan arang. Salah satu di antaranya disebut berperan sebagai pembeli sekaligus penyalur arang ke Makassar. Namun, tudingan tersebut masih sebatas keterangan warga dan diharapkan dapat ditelusuri lebih lanjut oleh aparat penegak hukum.

Warga berharap aparat terkait segera turun tangan sebelum kerusakan bertambah luas. Selain mengancam lingkungan, hilangnya mangrove juga berdampak pada hasil tangkapan nelayan, kualitas pesisir, hingga potensi tenggelamnya wilayah permukiman jika abrasi terus terjadi.

Mangrove selama ini dikenal sebagai pelindung alami pesisir dari gelombang laut, penahan abrasi, sekaligus habitat berbagai biota. Jika kerusakan tak dihentikan, masyarakat Tanakeke dikhawatirkan akan menghadapi risiko bencana pesisir yang lebih besar di masa mendatang.(Saifuddin Gassing)