TAKALAR, UPDATESULSEL.ID– Di usia yang telah melewati satu abad, Baji Daeng Puji, warga Je’nemattalasa, Kelurahan Pattallassang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Takalar, harus menjalani hari-harinya di tengah kondisi rumah yang memprihatinkan.
Nenek berusia lebih dari 100 tahun itu kini membutuhkan uluran tangan pemerintah untuk mendapatkan tempat tinggal yang aman dan layak huni. Rumah yang selama ini menjadi tempat berteduh bersama cucunya, Ira, mengalami kerusakan parah setelah diterjang angin puting beliung pada 2025 lalu.
Sejumlah lembaran seng pada bagian atap terlepas dan beterbangan. Sementara itu, balok serta papan bangunan mulai lapuk akibat terus-menerus terpapar air hujan. Kondisi tersebut membuat rumah semakin rentan dan membahayakan keselamatan penghuninya.
Ira, cucu Baji Daeng Puji, mengaku hingga kini belum ada bantuan perbaikan rumah yang diterima keluarganya, meskipun kerusakan bangunan sudah cukup berat.
“Banyak seng atap rumah yang sudah terbang saat diterjang angin puting beliung. Balok dan papan juga sudah lapuk karena sering terkena air hujan. Sampai sekarang belum ada bantuan untuk memperbaiki rumah nenek saya,” ungkap Ira, Jumat (6/11/2026).
Di tengah kondisi ekonomi yang serba terbatas, Ira berupaya memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama neneknya yang telah mengalami kepikunan akibat faktor usia.
Untuk memperoleh penghasilan, Ira berjualan makanan sarapan di Lapangan H. Makkatang Daeng Sibali setiap Minggu saat pelaksanaan Car Free Day (CFD).
Dari usaha kecil tersebut, ia terkadang mendapatkan keuntungan sekitar Rp100 ribu hingga Rp300 ribu dalam sepekan. Penghasilan itu harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup, sekaligus menopang kondisi rumah yang membutuhkan perbaikan serius.
Dengan keterbatasan tersebut, Ira berharap pemerintah tidak hanya memberikan bantuan kebutuhan pokok, tetapi juga memperhatikan kondisi tempat tinggal neneknya.
“Kami berharap Pemerintah Kabupaten Takalar maupun pemerintah pusat bisa memberikan bantuan bedah rumah. Setidaknya atap rumah nenek saya bisa diperbaiki dan balok serta papan yang sudah lapuk dapat diganti agar rumahnya kembali aman ditempati,” harapnya.
Ira menjelaskan, selama ini Baji Daeng Puji hanya menerima bantuan sembako setiap tiga bulan sekali. Saat bencana angin puting beliung melanda rumahnya pada tahun lalu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Takalar juga sempat menyalurkan bantuan berupa sembako dan tikar.
Namun, bantuan untuk memperbaiki kerusakan bangunan hingga kini belum terealisasi.
Kondisi rumah yang semakin rapuh bahkan pernah mengancam keselamatan Baji Daeng Puji. Ia diketahui pernah terjatuh ke bagian bawah rumah setelah papan lantai yang diinjaknya ambruk.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu alasan keluarga berharap agar rumah segera diperbaiki. Untuk sementara waktu, Baji Daeng Puji terpaksa tinggal di rumah keluarga yang berada di samping bangunan sebelumnya.
Situasi ini menjadi perhatian serius, mengingat usia Baji Daeng Puji yang sudah sangat lanjut dan membutuhkan lingkungan tempat tinggal yang aman, nyaman, serta ramah bagi lansia.
Kepala Kelurahan Pattallassang, Sukri, membenarkan kondisi memprihatinkan yang dialami warganya tersebut.
Ia mengaku telah menyampaikan persoalan itu kepada BPBD serta Dinas Sosial dan PMD Kabupaten Takalar agar Baji Daeng Puji mendapatkan perhatian dan bantuan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Menurut Sukri, kondisi rumah yang tidak layak huni tersebut sudah seharusnya mendapatkan penanganan melalui program bedah rumah.
“Kami sudah menyampaikan kepada pihak BPBD serta Dinas Sosial dan PMD Takalar agar warga kami ini bisa mendapatkan perhatian, khususnya bantuan bedah rumah. Kondisinya memang sangat memprihatinkan,” jelas Sukri.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial dan PMD Kabupaten Takalar, Andi Rijal Mustamin, menyatakan akan menindaklanjuti laporan dari pemerintah kelurahan dengan memberikan bantuan sosial.
Ia menyebutkan, surat penyampaian terkait kondisi Baji Daeng Puji telah diterima oleh pihak dinas.
“Saya akan memberikan bantuan sembako. Surat penyampaian dari kelurahan sudah ada masuk di Dinsos dan PMD Takalar,” ujar Andi Rijal Mustamin.
Kisah Baji Daeng Puji menjadi gambaran nyata bahwa masih ada warga lanjut usia di Kabupaten Takalar yang membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah, khususnya mereka yang hidup dalam keterbatasan ekonomi dan menempati rumah tidak layak huni.
Bantuan sembako memang dapat meringankan kebutuhan sehari-hari. Namun, bagi Baji Daeng Puji, perbaikan rumah menjadi kebutuhan mendesak demi keselamatan dan kenyamanan di masa senjanya.
Kini, keluarga berharap adanya langkah konkret dari Pemerintah Kabupaten Takalar maupun pemerintah pusat melalui program bedah rumah atau bantuan rehabilitasi rumah tidak layak huni.
Di usia yang telah mencapai lebih dari 100 tahun, Baji Daeng Puji tentu tidak mengharapkan kemewahan. Rumah yang aman, atap yang tidak bocor, serta lantai yang tidak lagi membahayakan keselamatannya menjadi harapan sederhana yang ingin diwujudkan.
Masyarakat pun berharap kisah ini menjadi perhatian bersama, agar warga lansia yang hidup dalam keterbatasan tidak luput dari jangkauan program perlindungan dan kesejahteraan sosial pemerintah.(*)









