Puluhan Tahun Rusak, Jalan Damme–Lanyara Kembali Dipersoalkan: PAGORA 40 Tuntut Pemkab Takalar Bertindak Nyata

IMG 20260218 WA0113

TAKALAR, UPDATESULSEL.ID– Kondisi Jalan Damme–Lanyara yang menghubungkan Kelurahan Pattene dan Desa Moncongkomba, Kabupaten Takalar, kembali memicu gelombang protes warga. Infrastruktur yang disebut-sebut telah puluhan tahun minim sentuhan perbaikan itu kini dinilai semakin memburuk dan membahayakan pengguna jalan.

Warga mengeluhkan kerusakan yang kian parah, terutama saat musim hujan. Lubang menganga dan badan jalan yang tak rata bukan hanya memperlambat arus transportasi, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan. Aktivitas ekonomi masyarakat pun terdampak karena akses distribusi hasil pertanian dan perdagangan menjadi terhambat.

Kondisi tersebut mendorong organisasi kepemudaan PAGORA 40 turun ke jalan. Mereka menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Takalar, menuntut kepastian realisasi perbaikan.

Jenderal Lapangan aksi, Risal Keca, dalam orasinya meminta penjelasan terbuka terkait progres pengusulan proyek tersebut.

“Kami butuh kepastian, bukan sekadar wacana tahunan. Sudah sejauh mana tahapan pengusulannya? Masyarakat terus menunggu sementara kondisi jalan makin memprihatinkan,” tegasnya.

Aksi itu diterima langsung oleh Kepala Dinas PUPR bersama jajaran, termasuk Kepala Bidang Bina Marga. Dalam dialog terbuka, pihak dinas menyampaikan bahwa usulan perbaikan Jalan Damme–Lanyara rutin diajukan setiap tahun, namun terkendala keterbatasan fiskal daerah.

Menurut penjelasan dinas, panjang ruas jalan tersebut mencapai sekitar 7,1 kilometer dengan estimasi kebutuhan anggaran kurang lebih Rp20 miliar. Angka itu dinilai cukup besar jika dibandingkan dengan kemampuan anggaran daerah saat ini.

Tak berhenti di kantor PUPR, massa PAGORA 40 melanjutkan aspirasi ke Kantor DPRD Kabupaten Takalar. Mereka diterima dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi III dan sejumlah anggota dewan dari berbagai fraksi.

Perwakilan Komisi III menyebutkan bahwa persoalan klasik keterbatasan anggaran menjadi tantangan utama pembangunan infrastruktur di Takalar. Dari total kebutuhan perbaikan jalan di 12 kecamatan, kemampuan anggaran daerah disebut hanya mampu menangani sekitar 8 kilometer per tahun.

Meski demikian, masyarakat berharap persoalan Jalan Damme–Lanyara tidak kembali terulang sebagai janji tahunan tanpa realisasi. Bagi warga, jalan tersebut bukan sekadar akses penghubung, melainkan jalur vital yang menopang aktivitas sosial, pendidikan, hingga roda ekonomi.

Aksi yang berlangsung tertib itu menjadi sinyal bahwa desakan publik terhadap pemerataan pembangunan semakin kuat. Kini, warga menunggu langkah konkret dari Pemerintah Kabupaten Takalar—bukan sekadar pengusulan berulang, tetapi realisasi nyata demi keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.(Suhardiman)