TAKALAR, UPDATESULSEL.ID– Polemik penutupan akses jalan menuju rumah warga terjadi di Dusun Pattekerang, Desa Patani, Kecamatan Mappakasunggu (Mapsu), Kabupaten Takalar.
Pihak Yayasan MTs Tsanawiyah Patani disebut menutup akses jalan yang selama ini digunakan dua warga untuk menuju rumah mereka di belakang area madrasah.
Dua warga yang terdampak adalah Hamzah Daeng Ronrong dan H. M. Yusuf Daeng Nanring. Jalan yang melewati halaman Tsanawiyah Patani
tersebut dikabarkan sudah ditutup sekitar empat tahun terakhir.
Penutupan akses itu diduga dilakukan oleh pihak yayasan yang dipimpin Ketua Yayasan, H. Abdul Rauf Daeng Ngampang. Akibatnya, kedua warga kesulitan menuju rumah mereka karena satu-satunya akses yang biasa dilalui kini tidak lagi dapat digunakan.
Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa rumah kedua warga tersebut telah lebih dulu berdiri di lokasi belakang Tsanawiyah Patani sebelum bangunan sekolah agama itu didirikan di bagian depan.
Persoalan ini juga disebut-sebut berkaitan dengan dinamika politik pada saat pemilihan kepala desa (Pilkades) di Desa Patani beberapa tahun lalu, yang memicu ketegangan antara pihak tertentu.
Kepala MTs Tsanawiyah Patani, H. Bakri, saat dikonfirmasi mengaku tidak dapat memberikan banyak penjelasan mengenai awal mula persoalan tersebut. Ia menyebut masalah itu sudah terjadi sebelum dirinya menjabat sebagai kepala sekolah.
“Masalah itu sudah ada sebelum saya menjabat sebagai kepala sekolah. Saya memang mengetahui jalan itu ditutup, tetapi detail persoalannya saya kurang tahu,” ujar H. Bakri, Jumat (6/3/2026).
Sementara itu, Kepala Desa Patani, Suardi Daeng Roa, menilai penutupan akses jalan tersebut sangat memprihatinkan. Menurutnya, tindakan tersebut tidak seharusnya terjadi, apalagi melibatkan lembaga pendidikan berbasis agama.
“Ini sangat disayangkan karena lembaga pendidikan agama seharusnya menjadi contoh yang baik. Menutup akses jalan menuju rumah warga tentu tidak manusiawi,” kata Suardi.
Ia menegaskan bahwa kedua warga tersebut telah lebih dulu tinggal di lokasi tersebut sebelum pembangunan madrasah dilakukan.
Suardi juga meminta pihak yayasan agar segera membuka kembali akses jalan tersebut demi kemanusiaan dan kenyamanan warga.
“Kami berharap pihak yayasan bisa mempertimbangkan kembali dan membuka akses jalan itu. Kasihan warga kami yang terdampak, bahkan saat ini mereka terpaksa tinggal di luar Desa Patani dengan menyewa rumah,” tambahnya.
Sehingga Pemerintah desa berharap persoalan ini dapat diselesaikan secara musyawarah agar tidak terus menimbulkan konflik di tengah masyarakat.







