Kades Bilalang Gowa Tegaskan Kolaborasi Desa, Media, dan Ormas Kunci Tata Kelola Transparan

IMG 20260206 WA0087

GOWA, UPDATE SULSEL. ID— Kepala Desa Bilalang, Kabupaten Gowa, Abdul Hafied Parallu, SE, menekankan bahwa kerja sama antara pemerintah desa, media, dan organisasi kemasyarakatan bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendasar dalam membangun desa yang demokratis dan terbuka.

Menurutnya, pembangunan desa akan kehilangan arah jika dijalankan tanpa pengawasan publik dan partisipasi aktif masyarakat. Ia menilai, pola kerja yang tertutup justru berpotensi menjauhkan program desa dari kebutuhan nyata warga.

“Pemerintah desa tidak boleh berjalan sendiri dan merasa paling benar. Ruang kritik harus terbuka, karena yang paling dirugikan dari pemerintahan tertutup adalah masyarakat itu sendiri,” ujar Abdul Hafied saat berbincang dengan awak media.

Ia menyoroti peran media yang kerap disalahartikan hanya sebagai sarana publikasi kegiatan desa. Padahal, media memiliki fungsi penting sebagai penyeimbang informasi sekaligus kontrol sosial terhadap jalannya pemerintahan.

“Media itu mitra kritis, bukan corong kekuasaan. Jika pemerintah desa takut diberitakan, perlu ada evaluasi terhadap tata kelolanya,” tegasnya.

Tak hanya media, Abdul Hafied juga memberi perhatian pada organisasi kemasyarakatan (ormas) dan komunitas lokal. Ia menilai, kelompok masyarakat tersebut seharusnya dilibatkan secara nyata dalam setiap tahapan pembangunan, mulai dari perencanaan hingga pengawasan.

“Ormas adalah representasi suara warga. Jika hanya dilibatkan secara simbolik, pembangunan akan kehilangan legitimasi sosial,” katanya.

Ia mengakui, keterbukaan informasi publik di tingkat desa masih menjadi pekerjaan rumah di banyak tempat. Transparansi, menurutnya, tidak cukup hanya dengan memajang papan informasi anggaran.

“Transparansi itu membuka data, membuka dialog, dan siap dikritik. Dana desa yang besar tanpa pengawasan justru berisiko disalahgunakan,” ungkapnya.

Abdul Hafied menegaskan bahwa kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab seharusnya dipandang sebagai dorongan perbaikan, bukan ancaman.

“Desa yang kuat bukan desa yang anti kritik, tapi desa yang mau mendengar dan berbenah,” tambahnya.

Di akhir pernyataannya, ia mengajak seluruh elemen pemerintah desa, media, dan organisasi kemasyarakatan untuk membangun hubungan yang setara, jujur, dan berkelanjutan demi mewujudkan Desa Bilalang yang partisipatif dan berpihak pada kepentingan rakyat.

“Kalau semua berjalan sendiri-sendiri, pembangunan hanya dinikmati segelintir orang. Tapi jika bersinergi secara sehat, desa benar-benar akan menjadi milik masyarakat,” pungkasnya.(Awaluddin Anwar)