MAKASSAR, UPDATESULSEL. ID– Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan mencatat tingkat inflasi year on year (y-on-y) pada Desember 2025 mencapai 2,84 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) berada di angka 109,28. Angka ini mencerminkan adanya kenaikan harga barang dan jasa secara umum dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pemantauan inflasi dilakukan di delapan kabupaten/kota, yakni Bulukumba, Watampone, Wajo, Rappang, Luwu Timur, Makassar, Parepare, dan Palopo. Dari hasil pemantauan tersebut, Kota Parepare menjadi daerah dengan inflasi tertinggi, sementara Kota Palopo mencatat inflasi terendah di Sulsel.
“Inflasi tertinggi terjadi di Kota Parepare sebesar 3,85 persen dengan IHK 110,69, sedangkan inflasi terendah tercatat di Kota Palopo sebesar 2,32 persen dengan IHK 108,62,” ungkap BPS Sulsel dalam rilis resminya.
Makanan dan Jasa Jadi Penyumbang Inflasi Terbesar BPS Sulsel menjelaskan, inflasi tahunan Desember 2025 dipicu oleh kenaikan indeks harga pada hampir seluruh kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama dengan inflasi mencapai 4,46 persen.
Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat lonjakan paling signifikan dengan inflasi sebesar 14,47 persen, seiring meningkatnya permintaan terhadap berbagai layanan dan kebutuhan personal.
Selain itu, kenaikan harga juga terjadi pada: Perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,72 persen, transportasi sebesar 0,42 persen, Kesehatan sebesar 1,63 persen, Pendidikan sebesar 1,12 persen, Penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,24 persen.
Di sisi lain, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan justru mengalami deflasi sebesar 0,46 persen, yang sedikit menahan laju inflasi secara keseluruhan.
Emas Perhiasan hingga Beras Beri Andil Besar
Sejumlah komoditas tercatat memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi y-on-y Desember 2025. Emas perhiasan menjadi penyumbang tertinggi dengan andil 1 persen, disusul beras sebesar 0,29 persen, cabai rawit 0,12 persen, serta ikan bandeng (ikan bolu) sebesar 0,11 persen.
Sementara itu, sigaret kretek mesin (SKM) dan daging ayam ras masing-masing menyumbang inflasi sebesar 0,1 persen.
Inflasi Bulanan 0,49 Persen. Secara month to month (m-to-m), Sulawesi Selatan mengalami inflasi sebesar 0,49 persen. Komoditas yang dominan mendorong inflasi bulanan antara lain cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, serta emas perhiasan.
Adapun inflasi year to date (y-to-d) Provinsi Sulawesi Selatan hingga Desember 2025 tercatat sama dengan inflasi tahunan, yakni 2,84 persen.
BPS Sulsel menegaskan, kelompok pengeluaran yang paling besar memberikan andil inflasi tahunan adalah makanan, minuman, dan tembakau, disusul perawatan pribadi dan jasa lainnya, serta sektor perumahan dan restoran. Sementara kelompok informasi dan jasa keuangan kembali mencatat andil deflasi.(*)







