TAKALAR, UPDATESULSEL.ID– Ancaman abrasi pantai kian menghantui warga Pulau Satangnga, Desa Mattiro Baji, Kecamatan Kepulauan Tanakeke, Kabupaten Takalar. Setiap tahun, garis pantai terus tergerus ombak, mempersempit daratan dan mengancam permukiman warga.
Kondisi ini memicu kekhawatiran masyarakat setempat. Mereka mendesak Pemerintah Kabupaten Takalar dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan segera turun tangan sebelum kerusakan semakin meluas.
Kepala Desa Mattiro Baji, Muh. Ridwan, mengungkapkan bahwa pemerintah desa sebenarnya telah berupaya melakukan penanganan secara mandiri. Salah satunya dengan mengalokasikan anggaran desa untuk pembangunan tanggul penahan abrasi. Namun, keterbatasan dana membuat pembangunan hanya mampu menjangkau sebagian kecil wilayah terdampak.
“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin melalui anggaran desa, tapi dananya sangat terbatas. Tidak sebanding dengan luas area yang terdampak abrasi,” ujarnya.
Ridwan juga menyampaikan bahwa pihaknya telah berulang kali melaporkan kondisi tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Takalar. Bahkan, usulan penanganan abrasi rutin dimasukkan dalam setiap Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan.
“Sudah beberapa kali kami sampaikan, termasuk dalam Musrenbang kecamatan. Proposal juga pernah kami kirimkan ke BNPB, namun sampai sekarang belum ada tindak lanjut yang jelas,” tambahnya.
Abrasi yang terus terjadi dikhawatirkan tidak hanya menggerus daratan, tetapi juga mengancam keberlangsungan hidup masyarakat pesisir yang mayoritas menggantungkan ekonomi pada sektor perikanan dan kelautan.
Warga berharap pemerintah daerah maupun provinsi segera melakukan langkah konkret, baik melalui pembangunan tanggul permanen, pemecah ombak, maupun program rehabilitasi pesisir. Tanpa intervensi serius, Pulau Satangnga terancam kehilangan lebih banyak wilayah daratan dalam beberapa tahun ke depan.
Kini, masyarakat hanya bisa berharap perhatian nyata dari pemerintah sebelum abrasi benar-benar menggerus masa depan mereka.(Saifuddin Gassing)







