Damkar Polman Siaga 24 Jam Hadapi Musim Kemarau, Bupati Samsul Mahmud Keluarkan Imbauan Karhutla

Avatar of IAN
Damkar polman 20260801 111951 0000 l Update Sulsel

POLEWALI MANDAR, UPDATESULSEL.ID– Memasuki puncak musim kemarau, Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kebakaran permukiman.

Bupati Polewali Mandar, H. Samsul Mahmud, mengeluarkan imbauan resmi yang mengajak seluruh masyarakat untuk lebih waspada dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

Pasang Iklan Update Sulsel

Sejalan dengan kebijakan tersebut, UPTD Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Polman mengintensifkan kesiapsiagaan personel selama 24 jam. Berbagai operasi dilakukan, mulai dari pemadaman kebakaran lahan, penyelamatan satwa liar, hingga membantu petani yang terdampak kekeringan.

Imbauan Bupati tertuang dalam Surat Peringatan Dini Kebakaran Pemukiman dan Karhutla Nomor: B-125/300.2.3/BPBD/VII/2026 tertanggal 28 Juli 2026. Kebijakan ini mengacu pada prakiraan BMKG terkait meningkatnya risiko kebakaran akibat fenomena El Nino dan minimnya curah hujan selama Juli hingga September 2026.

Dalam surat tersebut, masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membakar sampah tanpa pengawasan, memastikan instalasi listrik aman, mematikan kompor dan peralatan elektronik saat meninggalkan rumah, serta menghindari membuang puntung rokok sembarangan.

Meski sosialisasi telah dilakukan, insiden kebakaran tetap terjadi di area belakang Kantor Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Polewali Mandar, Jalan Gatot Subroto, Kelurahan Madatte, Jumat (31/7/2026).

Api diduga berasal dari pembakaran sampah yang ditinggalkan tanpa pengawasan hingga merambat ke tumpukan kayu, rumput kering, dan ban bekas akibat tiupan angin.

Regu A Pos Induk Polewali bergerak cepat menuju lokasi dan berhasil mengendalikan kobaran api melalui teknik penyelimutan, penguraian material terbakar, serta pendinginan. Tidak ada korban jiwa maupun kerusakan pada bangunan kantor dan alat berat yang berada di sekitar lokasi.

Beberapa jam kemudian, tepatnya Sabtu (1/8/2026) dini hari, kebakaran lahan kembali terjadi di sekitar Pesantren Jareqjeq, Desa Bala, Kecamatan Balanipa.

Api yang membakar lahan sekitar 200 meter persegi diduga berasal dari sisa pembakaran lahan warga yang belum benar-benar padam.

Dua unit armada dari Posko Tinambung dan Campalagian diterjunkan ke lokasi. Berkat respons cepat petugas, kobaran api berhasil dipadamkan sebelum menjalar ke kawasan pesantren sehingga aktivitas pendidikan tetap aman.

Tidak hanya menangani kebakaran, Damkar Polman juga menjalankan tugas penyelamatan non-kebakaran.

Sabtu pagi, petugas mengevakuasi seekor ular sanca kembang yang muncul di kawasan Alun-alun Polewali dan sempat mengundang perhatian warga yang sedang berolahraga.

Delapan personel menggunakan alat khusus untuk mengamankan ular tersebut tanpa melukai satwa maupun masyarakat. Selanjutnya ular akan dilepasliarkan ke habitat yang jauh dari permukiman.

Di tengah musim kemarau, Damkar Polman juga turun membantu petani di Desa Rappang Barat, Kecamatan Tapango, yang mengalami kekeringan.

Selama tiga hari berturut-turut, armada Damkar mendistribusikan air untuk menyelamatkan lahan persawahan agar tanaman padi tidak mengalami gagal panen.

Pada hari pertama, Bupati H. Samsul Mahmud turut meninjau langsung kondisi sawah yang mulai mengering dan retak akibat minimnya curah hujan.

Kepala UPTD Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Polewali Mandar, Imran, S.IP., M.M., menegaskan seluruh personel dan armada kini berada dalam kondisi siaga penuh.

“Kami menindaklanjuti imbauan Bupati dengan menyiagakan personel selama 24 jam. Penanganan tidak hanya fokus pada pemadaman kebakaran, tetapi juga penyelamatan satwa liar dan bantuan kemanusiaan berupa penyiraman sawah warga yang terdampak kekeringan,” ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau dengan tidak membakar sampah maupun membuka lahan menggunakan api.

Menurutnya, partisipasi masyarakat sangat menentukan keberhasilan upaya pencegahan kebakaran yang dapat mengancam keselamatan jiwa, lingkungan, maupun lahan pertanian.(*)

,